twitter

Showing posts with label olah perca. Show all posts
Showing posts with label olah perca. Show all posts




Awalnya, Adek menggambar monster itu di atas kertas. Saya memindahkannya ke kain, dengan bantuan kertas karbon. Jadilah monster yang menemaninya ke sekolah tiap hari....




Yang ini masih bersaudara beda marga sama Monster Kancing yang dibuat beberapa waktu lalu. Namanya Monster Perca. Dibuat dari sisa kain yang numpuk nyaris jamuran di gudang.

Hasil uji coba dari pola ngarang ala kadarnya untuk mengajar kelas menjahit boneka. Pengen buat polanya juga sih, terus tar dibikin pdf-nya, terus masukin Ziddu. Jadi siapa yang ingin buat, tinggal download di Ziddu, terus di-print, jadi deh, itu pola. Sabar ya...lagi flu nih *basuh ingus*



Perca kadang sakti juga. Kecil, tapi kerap mewarnai. Sedikit sentuhannya, kadang membuat penampilan tampak berbeda. Masa iya?

Ya sudah kalau gak percaya, tonton saja yang ini:















Belakangan, energi untuk menekuni craft raib entah kemana. Barangkali karena sibuk mengajar, atau hari-hari yang kini tanpa asisten di rumah, atau pekerjaan kantor yang tiba-tiba beat-nya meninggi. Menengok pojok craft, ada rasa bersalah. Perca di sana-sini tak terurus, alat-alat berserakan dimana-mana (jagoanku, Bru, andil besar dalam hal ini). Semalam, tiba-tiba ada rasa "ingin" yang demikian kuat. Setelah anak-anak terlelap, aku mengendap-endap ke ruang belakang; bebenah. Tiba-tiba mata tertuju ke perca yang aku potong bulat-bulat. Ya, bukankah sebulan lalu aku mulai mempelajari teknik fuxico? Fuxico adalah salah satu teknik "potong serut" perca untuk dibentuk menjadi -- mostly -- bentuk bunga dan dirangkai menjadi banyak bentuk dan karya. Konon, fuxico yang asalnya dari Brazil itu berasal dari kata "fuxicar" yang artinya adalah gossip. Kok? Ya. Sebagaimana quilting, di Brazil fuxico biasa dilakukan kaum ibu di perdesaan sambil duduk-duduk melingkar. Ibu-ibu ketemuan biasanya kan bergossip (huh...sebel dengan stereotip model begini....). Sama seperti quilting, fuxico juga dimainkan menjadi aneka craft: bedcover, penutup teko, taplak meja, hingga rompi dan baju pesta. Maka, malam ini aku membuat puluhan bunga perca. Mau dijadikan apa, dipikirkan kemudian. Yang penting bikin-bikin-bikin dan bikin. Sampai tak terasa mata mengatup dan bergegas tidur. Lupa pada acara bebenah!



Aku kehilangan banyak akhir pekan belakangan ini. Sibuk mondar-mandir untuk beragam urusan, lalu ke Palembang, lalu ke Purbalingga dan Pekalongan seminggu kemudian. Minggu ini baru aku merasakan nikmatnya berada di rumah 36 meter persegi kami. Meski AC ngadat dan -- you know lah...bagaimana rasanya...tubuh serasa meleleh -- rumah seperti kapal pecah, namun kami menyempatkan membuat proyek bersama. Temanya kali ini: hiasan dinding.
Awalnya, biasa....kakak malas-malasan. "Mencabut"-nya dari depan komputer di akhir pekan bukan pekerjaan yang gampang. Harus kuat rayuannya. Tapi begitu crayon sudah tersebar, dia antusias. Proyek dia, membuat tampilan situsnya di atas kertas (tak jauh-jauh dari apa yang membuatnya super duper sibuk di hari liburnya...)

Si kecil Azam, yang cita-citanya menjadi pawang ular (...) seperti biasa terobsesi dengan dunia fauna. Apalagi hari ini dia girang betul mendapat nilai 80 untuk gambar ikan yang dibuatnya. Maka dia membuat alam bawah laut menurut versinya. Sunyi...sepi...samudera seluas itu hanya ada dua ikan besar dan kecil.....).

Sejam kemudian, dua belahan jiwa itu sudah selesai dengan proyeknya..






Bagaimana dengan emaknya? Aku membuat lukisan dengan perca. Memindahkan gambar pemandangan zaman kita kecil dulu: dua gunung, satu pohon, ada matahari di atasnya. Lalu angka tiga rebah, burung bangau terbang.
Lalu bojo surojo? Ah...dia dikerjain aja untuk jadi model. Begini gayanya:












Ingat proyek insomniaku tempo hari? Sampai kemarin pagi, masih utuh seperti sedia kala. Masih belum memutuskan untuk jadi apa. Tapi pigura sudah dibeli sih. Seapes-apesnya tidak jadi apa-apa, dia akan aku masukkan pigura dan jadilah hiasan dinding.
Hingga....susah tidur lagi dini hari tadi. Tepatnya bukan susah tidur. Aku tidur sore saat bojo surojo, yang adalah atlet gaple dan catur andalan RT, seperti biasa harus masuk "pelatnas" pukul 20.00. Pulang pukul 01.30, blio langsung mendengkur dengan suksesnya. Alhasil, istri jelita ini terbangun dan susah untuk terpejam lagi. Suara kereta api itu sungguh nyaring bunyinya...
Mencoba bergabung dengan kakak dan Bru -- dia lebih senang dipanggil Ade, karena sekarang menjadi adiknya kakak -- nihil hasilnya. Dua jagoan itu sama-sama hobi monolog plus saling menyepak dan muter searah jarum jam selagi tidur.
Maka, teringatlah proyek insomnia itu. Atas saran Uli di sini beberapa waktu lalu, jadilah tas imut yang bakal menemani jalan-jalan akhir pekan kakak....






























Satu hal yang aku suka dari mengotak-atik kain adalah: sebelum menjadi cabikan kecil atau rapuh, kain sekecil apapun atau sebuluk apapun, kagak ada matinya. Mau bukti?

Tradaaaa....cempal dari sarung bantal usang!
































Tiap kali melihat bantal itu, aku kangen ibu, yang sudah makin sepuh. Ibu dan bapak masih semesra puluhan tahun lalu dan tinggal masih di rumah yang sama ketika kami kecil dulu,  di tempat asalku, Purbalingga, Jawa Tengah.

Bantal sederhana itu adalah salah satu wujud keteguhan hati wanita yang telah membesarkan lima buah hatinya bersamaan (usia kami anak-anak ibu hanya berjarak 1,5 tahun) dan dua orang "bonus" yang hadir kemudian setelah kami remaja.

Sembilan tahun lalu, ibu mengalami stroke. Pingsan di rumah sendirian saja, karena bapak sedang berkunjung ke rumahku, setelah menyelesaikan suatu urusan di Jakarta. Kakak tertuaku yang tinggal di kota yang sama mengantarkan beliau ke rumah sakit, sebelum dia mengabari seluruh adik-adiknya.

Beberapa hari dirawat di rumah sakit, ibu pulang dalam kondisi yang tidak prima lagi. Hidupnya harus disokong obat, bahkan sampai sekarang. Memorinya harus dikumpulkan lagi satu-satu. Tapi tekad ibu saat itu, adalah, "Aku harus sehat dan sembuh. Aku ingin main tampokan (badminton) lagi sama bapak."

Begitu tangan sudah mulai kuat, ibu kembali menekuni hobinya: menjahit (ingat kan, ibuku adalah "master" dalam urusan membuat baju kembar lima?). Karena tak ada kain baru, ibu memungut remah-remah kain yang tersisa, perca-perca sisa jahitan sebelumnya. Jadilah bertumpuk sarung bantal, taplak meja, serbet makan, hingga selimut. Dan ajaib, selama proses jahit-menjahit itu berlangsung, ibuku berangsur sembuh. Bahkan kaki mulai lihai kembali menggenjot mesin jahit.

Kami takjub waktu pulang kampung dan kumpul bersama, karya-karya itu terpajang dengan indahnya. Bantal perca ada di tiap kamar kami. Bahkan ibu juga membuat versi imut untuk bayi kakakku. Kami mendengarkan cerita bapak tentang kegiatan ibu pascastroke sambil tersenyum dan menangis.....

Kini bantal-bantal itu tersebar di rumah anak-anaknya dan menjadi bantal kesayangan para cucunya. Ya Allah, terima kasih telah menguatkan ibuku....


Belum ketahuan mau dijadiin apa. Mungkin tas selempang, mungkin dompet handphone, atau hiasan dinding....


Kantong tempel itu usang sudah. Aku membelinya tak lama setelah tinggal di Jakarta dan kost di sebuah paviliun yang masih kosong. Aku mengisinya dengan perabotan yang serba praktis da murah meriah tentu saja, sesuai kontong saat itu. Salah satunya, kantong gantung yang aku gunakan untuk menyimpan surat, pager (secara saat itu belum ada handphone!) dan batere serta pernik-pernik.
Aku menyadari pernah memiliki Paman Donald itu setelah bongkar-bongkar barang-barang lama tempo hari. Asli, sudah buluk betul. Tapi mau dibuang kok ya sayang. Jadi, aku akalin dengan melapis ulang bagian terbuluknya dengan warna senada. Lumayanlah. Bisa untuk menyimpan charger handphone yang kerap tercecer.


Aku punya beberapa bahan untuk membuat gantungan kunci. Gampang banget bikinnya. Aku sudah buatkan "jalan jarum" berupa titik-titik, jadi anak kita tinggal keluar-masukin jarumnya saja melewati jalur itu. Bila berminat, transfer pengganti biaya kirim saja. Atau kalau teman-teman tinggal di radius Pamulang-Ciputat-BSD, bisa diambil Sabtu pekan depan di Taman Kota BSD. Sepakat kan, kalau liburan anak kita isi dengan hal-hal bermanfaat?
(Foto lengkap menyusul. Internet lagi agak bolot)


Ini jadwal akhir pekan kami: membuka internet bersamaan, kakak di PC ayah di laptop. Aku? Nyengir jaya tak kebagian! Jadi, mengaduk kamar setrika mencari-cari apa yang bisa dimainkan. Trada.....ketemu kain batik sisa membuat baju kakak. Lebarnya lumayan, sekitar 1,25 meter.
Sedianya, mau dipasang di kamar yang baru rampung digasar-geser Jumat lalu. Tapi korang cocok temanya. Jadi dipasang di jendela depan.
Simsalabim, dengan modal Rp 7.500 saja (buat beli pita), jadilah tirai baru....



Ini karya yang jadul punya. Dibikin sebelum Indonesia merdeka..he..he...Enggak sih...zaman masih kuliah, hampir 15 tahun lalu. Diperutnya, aku menyimpan tisu. Si Beruang ini menjadi saksi bisu saat: berderai-derai berpisah dengan pak Mantan, ingusan sepanjang menyiapkan skripsi, gagal ujian karena salah baca jadwal...
Walao doi kini jadi agak reman gitu, karena matanya ilang satu, tapi masih tampak imut kan? Mau dipensiun rasanya kok enggak tega rasanya. Pokoknya, 15 tahun kami saling setia....




Tadinya, saya "naksir" berat tempat handphone di gerobak pernik-pernik yang ada di Citos pas Ladies Bazaar pekan lalu. Tapi "belajar menahan diri"-nya sukses jaya. Malah menantang diri untuk membuat yang lebih bagus *sombong, sikap tak terpuji*

Maka, saya memutuskan untuk mencoba membuat sendiri.

Begini cara saya membuatnya:



#       "Muka" kelinci dipasang dulu. Nantinya, ini akan menjadi bagian depannya. Kainnya tak perlu beli baru. Perca sisa-sisa saja. Kalau gak ada, guntinglah rok yang sudah tak kepakai juga tak apa










Begini jadinya. Cute kan, tampangnya?









#      Sisi bagian belakang dibuat kemudian







Lalu dipasangkan ke bagian tengah, yang merupakan dua carik kain yang dilekatkan jadi satu. Dengan lem? Bukan! Dengan benang dan jarum tentu saja. Dijahit yang kuat, getooo...



Maka, gak sampai tiga tahun satu jam kemudian, Tradaaaaa.......