twitter

Showing posts with label tutorial. Show all posts
Showing posts with label tutorial. Show all posts

"Stitch" kakak hilang saat dia mengikuti OSIS Camp ke Malang, Jawa Timur. Ini acara rutin sekolahnya menutup semester. Karena sekolahnya hanya 10 bulan, OSIS Camp diadakan Mei lalu, usai Ulangan Kenaikan Kelas.

Siapa Stitch? Ini nama dia untuk kacamata tidur kesayangannya. Gambarnya memang karakter kartun Stitch, karib si Lilo. Untuk menggantinya, emaknya kebagian pe-er membuatnya sendiri. Sempat bimbang antara: apakah akan membuat burung hantu atau panda, akhirnya yang terakgir saya pilih.

 Begini saya membuatnya:

1. Membuat granny square dua warna dengan single crochet, kemudian digabung menjadi satu. 
2. Lapis begian belakang dengan flanel dan kain katun gelap.
3. Kelim sekelilingnya sambil pasang elastik.
4. Jadi deh!







Tepatnya, bukan menjahit kemeja, tapi menyulap kemeja ayah jadi baju ibu.
Asalnya, kemeja ini adalah lengan pendek. Motifnya batik Banjarmasin, lebih populer disebut sesirangan. Dibeli sepulang liputan dari pedalaman Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tentu saja, buat suami tersayang :)

Delapan tahun kemudian, kemeja ayah menyerah dimakan usia. Tepatnya, bagian kerah ancur duluan. Dipensiunkan? Sayang. Berdasar pengalaman me-recycle dress untuk daster kakak, dan menyulap pasmina jadi baju, kenapa tidak ilmu yang sama diterapkan dalam baju ini?
Jadi, mari kita sulap saja jadi baju ibu. Simsalabim! Adakadabra!

1. Pertama, mari kita merancang cara. Skenario saya, bahu hingga sebatas lengan kita pangkas habis. Digunting miring, membentuk sudut 45 derajat. Gambar di bawah, garis putus-putus adalah jalur guntingnya. Kira-kira begini gambarannya:



2. Langsung eksekusi saja deh. bagian bawah kerah belakang juga digunting, segaris dengan jahitan kerah terbawah saja.


3. Cari bahan lain yang senada, lipat jadi dua, dan gunting miring. Jadikan potongan baju hingga bawah ketiak (poin nomor 1) sebagai pattern. Karena saya menyulapnya menjadi lengan panjang, maka panjangkan seukuran panjang tangan. Jahit kedua sisinya, rapikan jahitannya.



Untuk merapikan bagian leher, kita bisa memasang kerah tegak, atau dirapikan dengan menutupnya dengan 'list' di atasnya. Karena saya sedang malas, maka cara kedua yang saya pilih, dengan pertimbangan lebih cepat rampung :)


Jadi, beginilah tampang baju ayah sekarang, yang sudah ganti kelamin jadi baju ibu:


Sebetulnya, ini proyek yang sudah direncanakan sejak lama: menjodohkan kaus yang sudah aus dengan rok yang sudah out of date (tapi mau dipindahtangankan sayang, karena agak "bersejarah"). Tujuan proyek ini satu: baju rumah yang nyaman buat Kakak.

Ya, bidadari kecil yang kini mulai bertumbuh ini sering membuat saya terkaget-kaget ketika pulang kerja: memakai daster bolong emaknya. Alasannya, "Daster ibu adem dipakainya." Ah, tahu saja dia, bahwa semakin aus daster, semakin enak dipakai. Kekekekek....(bakat "slodeg" menurun...xixixixixixi...).

Jadilah daster itu begini bentuknya:



Tadinya asalnya dari begini:


Kemudian dipotong kira-kira sepanjang 30 cm dari bahu:


Dan ini juga diperlakukan sama:


 Kemudian disatukan. Biar gampang (karena kaus jadi melar kalau dijahit, sebaiknya dijelujur dulu:


Saya menjahitnya dengan tangan, bukan mesin. Jadi saya stik balik dengan tusuk tikam jejak:


Jadilah baju rumah daur ulang itu dalam setengah jam.......


Karena kaus asal punya emaknya, maka pasti kegedean buat Kakak. Jadi diserut aja pakai benang wol yang ujungnya dihias dengan wol gulung yang diikat di tengah kemudian digunting ujung-ujungnya. Tapi Kakak malah keheranan: apaan sih ini bu? Wakakakakak!











Membuat pola sederhana








Mengguntingnya untuk badan









Menyiapkan kepalanya, dan juga.........










Menggarap mukanya.
Pokoknya, singkat kata........................................



Karena berburu tikus dan tak dapat satupun karena kalah besar, maka saking ngantuk dan capeknya, Sweety pun tepar di lantai.........





Perkenalanku dengan dunia jahit-menjahit pertama kali terjadi di umurku yang ke-10. Awalnya, karena gemas melihat ibu yang selalu "sukses" membuat baju-baju kami -- lima anak, satu corak kain, jadilah kami kembar lima tidak beraturan (paling sebel kalau ada yang meledek: tambah satu dapat gelas!)

"Korban" pertamaku adalah sprei yang bolong karena kelamaan terpapar setrika (secara tahun 1980-an, setrika listrik tak ada tombol otomatis pengatur suhu). Dengan sedikit arahan sang suhu -- yang adalah ibuku, ahli pembuat baju kembar lima itu -- jadilah daster pertama buatan tanganku. Bangga rasanya mengenakan sesuatu hasil keringat sendiri (dramatisasi mode on! ).

Tadi pagi, sambil menemani bojo surojo tercintah yang tengah sibuk mengumpulkan bahan untuk menulis kolom di sebuah surat kabar tentang bola, aku keingetan pashmina ungu oleh-oleh teman dari Yogya. Bagus sih, tapi insiden kelunturan mengubah segala keindahannya.

Maka, aku mengulang kejadian berpuluh tahu lalu. Membuat daster dengan cara yang sama. Lumayan. Paling tidak, si kakak, sulungku yang beranjak remaja,  sangat bangga mengenakannya!

Ini cara paling sederhana untuk membuat baju, dijamin 30 menit siap.


Pertama-tama:

1. Lipat pasmina jadi dua, lubangi bagian tengahnya. Lebarnya dikira-kira sendiri saja, asal pas buat kepala. Kalau besar kepala, maka besar pula lubangnya :)




Rapikan bagian lehernya, dengan dikelim kemudian dijahit atau di-soom tangan.





















2. Jahit kedua sisinya. Sisakan bagian atas untuk tangan, kira-kira 30 cm (15 cm depan 15 cm belakang).

















 3. Siap grakkkk! Kalau kepanjangan tinggal dipotong bawahnya. Atau biarkan saja, jadi aksen. Gak perlu jahit bawah pula.