twitter

Showing posts with label Tips 'N Trick. Show all posts
Showing posts with label Tips 'N Trick. Show all posts



"Pemanasan" setelah seminggu lebih berteman bakteri dan antibiotik: menyulap pipa paralon bekas jadi gantungan tirai: 

(1) siapkan pipa, lem, perca batik, sisa benang rajut untuk membuat tali pengikat ujung-ujungnya. 
(2) bungkus pipa dengan perca yang dipotong memanjang, dengan lebar kira-kira 2 cm dan panjang sesuai perca.
(3) buat pita dari rajutan buat pemanis, bisa juga digunakan pita instan dari toko. Tujuan selain mempermanis: mengikat ujung-ujung perca biar lebih kuat. 
(4) masukkan gantungan tirai pada pipa. (5) pasang deh di kusen jendela. 

Gak bagus-bagus amat sih, tapi lumayanlah...


Sent from Samsung tablet


Kemarin ada yang mengirimkan email, menanggapi postingan saya tentang upaya penyelamatan ketiak saat terjadi salah pola crochet. Agak bingung ya?

Berikut pola nanas yang saya maksud (yang di-bold merah ya bu). Bagian bawah, dipasang di ujung bawah kerung lengan. jika di gambar ini rantainya untuk masing-masing lengkung tiga, saya membuatnya masing-masing empat rantai. Working, bu. Baju hasilnya tetap manis :)



Pertama, ini bukan tentang bau badan, meski sebagai pengidap, saya mahfum betul cara mengusirnya..... hehe.

Kedua, bagi Anda para crocheter, pasti sering menghadapinya (kecuali yang sudah sangat mahir terutama dalam mengira-ira pola).

Woi...kok jadi berteka-teki. (Berpayung bukan raja, bersisik bukannya ikan. Hahay...jawabannya: nanas!)

Ini lho, bu ibu, tentang membuat baju crochet, tiba-tiba harus kesandung: lengan yang sudah dibuat terlalu kecil dibanding kerung lengan yang akan dipasang. Biasanya, saya menyiasatinya dengan membuat pola pagar (double crochet, rantai, double crochet, dst). Tapi ketika 'jurang' terlalu menganga, cara ini sama sekali tak menolong. Bisa sih dipaksakan, tapi hasilnya baju jadi tak manis jatuhnya.

Bagaimana dengan mengulang pola dari awal dengan menambah dua motif kiri dan kanan? No! Saya tak akan turuti saran itu kali ini. Saya sudah cukup berdarah-darah (lebay!) membuatnya, untuk dua lengan model jala yang saya kerap salah itung karena polanya monoton.

Berpikir-berpikir-berpikir...pasti ada cara, iya kan Boot?! (tanya Dora pada sahabatnya, halah!) Maka ketemulah ini: mengaplikasikan pola nanas untuk mengatasinya. Anda tahu pola nanas dan cara membuatnya kan? Bentuknya lebar di bawah, meruncing ke atas. Pas untuk menambal 'jurang menganga' tadi.

Dan, begitulah, si nanas menjadi penyelamat ketiak crochet saya kali ini. Bentuknya tetap manis, dipakainya enak. Tak perlu bongkar benang untuk membuat baru.

*kipas2 sambil lap-lap keringat*
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Bagi yang suka bingungan kayak saya, mungkin yang ini bermanfaat. Dicomot dari laman Facebook-nya FASTdealSG . Monggo dipelajari, diresapi, diamalkan (apa coba?! emang penataran P4...he he)



Foto diambil dari: eHow

Ada begitu banyak merek dan jenis mesin jahit di pasar. Bagaimana kita memilih yang tepat untuk kita?

Itu yang ada dalam benak saya akhir pekan lalu. Lieur bin pusing.

Saya bukan tipe penjahit yang "rewel" sebetulnya. Maksud saya, bukan yang amat sangat profesional sehingga kudu memiliki mesin yang supercanggih dengan segudang kemampuan termasuk mijit sama nimpuk.
Hal lain, saya cukup puas dengan Siti Nurbaya saya. Yang saya butuhkan saat ini hanyalah: mesin yang bisa untuk mengobras agar jahitan bagian dalam lebih rapi (curcol: tukang obras di pasar juteknya setengah mati, antre-nya bikin sembelit pula) dan yang bisa membuat lubang kancing jadi rapi.

Semula, mesin jahit listrik yang termurah yang saya taksir. Harganya, Rp 1,3 juta. Cukup ramah kantong saya pikir.

Tapi nanti dulu. Bukan saya kalau semua tak dibikin ribet (hehehe....begitu penilaian si kakak soal emak-emak). Jadi, saya belajar, browsing sana browsing sini...sampai membaca di Consumer Report segala. Hasilnya, syukurlah, mesin jahit idaman sudah saya pilih. Transaksi saya lakukan secara online, dan besok barang diantar (*deg-degan*).

Intinya yang ingin saya bagi dengan Anda soal membeli mesin jahit adalah (salah kalau saya akan omong merek :-P):

_ Tanya diri Anda apa keperluan Anda dengan mesin ini. Jangan membeli mesin jahit karena latah, apalagi ikut-ikutan tetangga sebelah. Jika hanya untuk menjahit lurus saja semisal mereparasi baju-baju bolong/sobek/kepanjangan (coret yang tak perlu), maka mesin jahit biasa sudah cukup. Yang manual juga tak apa. Harganya paling antara Rp 300 ribu - Rp 750 ribu, yang second saja. Jangan salah....second-nya mesin jahit manual  lebih enak dipakainya.

- Jika untuk tujuan belajar, mesin sederhana dengan 13 varian jahitan sudah cukup. Mengapa saya menyarankan mesin listrik dan bukan mesin manual? Berdasar pengalaman beberapa teman, tak semua sukses mengoperasikan mesin genjot. Bisa-bisa jarum cuma maju-mundur kagak jalan-jalan.

- Kenali fitur dan fungsi yang diinginkan. Ada dua pilihan, mesin jahit manual atau komputerisasi. Mesin manual adalah seperti yang ibu atau nenek kita digunakan. Mesin komputer atau listrik lebih praktis, bahkan yang paling modern memiliki layar sentuh.

Jika kita sudah paham apa yang kita inginkan, sila cari model yang pas. Bandingkan tiga hingga empat merek sekaligus, sesuaikan dengan budget yang dimiliki. Selamat berburu....



Seorang teman bertanya, jarum pentul wajib ada ya, dalam kotak jahit kita? Tergantung. Bagi saya, jarum pentul sangat membantu memudahkan kegiatan menjahit. Jarum pentung membantu tangan agar tak 'kerepotan' saat menjahit, terutama terkait dengan kelim mengelim atau menjadit kain yang jenisnya licin.

Jarum pentul berguna untuk:

* menyatukan dua bagian pola sebelum dijahut agar rapi.

* mengelim bagian yang akan dijahit tindas agar lebih rapi hasilnya.

* mematut aksesori sebelum dijahitkan pada pakaian.



Sebetulnya, dalam lahit-menjahit, banyak alat yang bisa dikompromikan, selain benang dan jarumnya tentu saja. Seam ripper  yang pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya misalnya, misa digantikan dengan silet, cutter, atau bahkan pisau dapur (*serieus*). Jarum pentul bisa digantikan perannya oleh jarum jahit tangan, dengan cara menjelujurnya. Jadi don't worry gak ada jarum pentul, kegiatan menjahit tetap jalan. Kalau alat yang ini sih, emang tak tergantikan!


Catatan:

Siapkan wadah khusus agar tidak tercecer, terutama jika di rumah ada balita. Bisa ditancapkan di bantalan jarum yang dibuat sendiri seperti punya saya di atas itu (*pamer*) atau bisa juga ditempelkan begitu saja di magnet. Ngomong-ngomong soal magnet, ini penting juga lho. Kalau jarum kita jatuh, akan mudah ditemukan dengan 'mengoperasikan' alat bantu ini   ;-))



Varian syal sangat beragam. Ada yang panjang, ada pula yang pendek. Ada yang lebar, ada juga yang hanya bunga-bunga crochet sederhana, saling disambungkan. Sama-sama indah, sama-sama manis.

Dulu, rumus nenek kita kalau membuat syal adalah sepanjang bentangan tangan kita, dari ujung jari tangan kanan, ke ujung jari tangan kiri. Atau, sedikitnya 60 inci, setara 152,4 cm.

Berikut ini adalah contoh dari tiga panjang syal yang berbeda dengan deskripsi dari apa yang bisa dilakukan dengan syal itu. Ingat, ini bukan ukuran baku. Bisa disesuaikan sesuai kebutuhan Anda.

Syal pendek

-Panjang sekitar 140 cm
-Dipakai di balik blazer Anda, yang dibiarkan terbuka atau setengah terbuka
-Disimpul di dada, tapi tak terlalu ke atas
-Ukuran ini biasa dipakai untuk syal-syal yang dijual siap pakai

Syal sedang

-Panjang sekitar 180 cm
-Temukan ujungnya, lalu selipkan di lupatan tengahnya: ini cara memakai syal yang tengah populer saat ini.
-Karena panjangnya, jadi lebih mudah untuk aneka kreasi pemakaian.

Syal panjang

-Panjang sekitar 200-an cm
-Biasanya digunakan dengan disimpul model Knot Ivy.
-Lebih sempurna untuk melawan hawa dingin.






MENENTUKAN HARGA SATU KARYA CROCHET


Saya selalu bertanya-tanya tentang ini, terutama setelah mulai mahir (what ?! $#@%^$&%$#!!!) merenda dan mulai menerima order :)

Menjadi sulit, apalagi jika pemberi order adalah orang di sekitar kita; teman sekantor, tetangga, sahabat. Ada rasa tidak enak hati jika menetapkan harga, takut kemahalan dan seterusnya. Padahal seorang teman crocheter selalu mengingatkan: karya crochet memang mahal, bukan pada benangnya, tapi pada waktu dan kesabaran kita. (catat #1).

Dia "memarahi" saya bahkan, untuk alasan yang saya kemukakan kemudian: baju di mal sekarang murah-murah, untuk karya crochet di atas Rp 300 ribu (kurang dari $ 30) akan membuat pemesan "kapok" bukan? "Tidak bisa dibandingkan demikian. Karya crochet, bandingkanlah dengan karya tangan lain." (catat #2).

Bahkan ada yang lebih serem lagi. seorang teman crocheter setengah murka ketika crochet doilies berupa taplak meja makan yang dibanderol seharga Rp 450.000  di sebuah pameran ditawar dengan semena-mena seharga Rp 200.000. "Mending disumbangin ke panti asuhan deh. Harga benang, waktu, tenaga, dan kreativitas lebih jelas harganya: berupa pahala." (catat #3)

Saya juga suka diledek suami, ketika akhir pekan jalan dan makan, katakan, di SushiGroove favorit anak saya. "Kau membuatnya selama tiga pekan, terus jadi uang, dihabiskan hanya satu setengah jam di sini." (yang ini tak saya catat :D)

Maka sebelum catatan saya bertambah panjang, saya memutuskan untuk mengirimkan email pertanyaan ke beberapa pihak yang kompeten dalam bidang ini. Para senior. Ini kata mereka:

Dydy (salah satu pendiri milis merajut dan pemilik situs merajut):

Kalau mau simpelnya, saya pernah baca standar yang masuk akal sekitar 3 sampai 4 kali harga benang. Tapi kalo mau dihitung lebih detail lagi tentunya harus memperhitungkan tingkat kesulitan (model dan pola projectnya), makin sulit perkaliannya ditambah :D

ada juga yang pake hitungan :
total harga = harga benang + (10%-25% x panjang benang yang dihabiskan)

(Dydy menyarankan untuk bergabung di situs Ravelry, banyak diskusi soal pricing your knits/crochets di sana *segera setelah membaca pesannya, saya mendaftar :D )


Mbak Deasy (pemilik Deasy Crochet):

Merajut adalah menjual seni dan waktu. Nilainya tak bisa dihitung secara matematika biasa. Lihat model dan tingkat kesulitannya. Kalau dari harga benang, rugi. Rugi waktu terutama.

Mbak Itsna (crocheter dari Yogya)

Soal harga, tak ada standar pasti. Belum lagi kalau yang pesan teman atao sodara, suka ga tega ngasih harga (saya banget, mbak...), yang artinya mengesampingkan jerih payah kita sendiri. kalau berapa kali harga benang, rasanya juga ga mungkin karena akan sangat tergantung benang yg di pakai (mahal atau murah). Tapi di luar harga benang, minimal 25 ribu lah untuk ongkos ngerajut 1 gulung benang 100 gr. (PS dari mbak Itsna: aku pernah menanyakan hal ini pd seorang teman, dan jawabnya : tergantung kebijakan perusahaan. ( dlm hatiku : yahhh, ga jawab pertanyaan ni , hehehe........)



Sedikit mencerahkan.  Terima kasih banyak *angguk-angguk ambil pensil di atas kuping mulai nulis harga*


 



Posting ini juga buat Opik, adik bungsu saya tercinta yang kini hidup terpisah dari ibu, karena menuntut ilmu di Malang. Pagi hari, ponsel kakaknya yang jelita ini bergetar. Dia bertanya hal yang sangat penting dengar hai dengar: bagaimana caranya membuat teh sereh!

Tempo hari saat liburan di Jakarta, dia termehek-mehek kami jamu dengan teh itu. Diminum hangat-hangat saat gerimis, anget. Siang hari, tinggal cempungin es batu. Suegerrr rek!

Resep ini ketemu secara kebetulan. Bersama si Kakak, menantang diri membuat teh rasa sama dengan teh sereh di resto Vietnam favorit kami. Aturan mainnya, tak boleh mencontek literatur apapun, even itu internet.

Dan......sukses jaya saudara-saudara. Ingin tahu caranya? Begini ....... *kibas-kibasin rambut bentar, biar makin kayak chef yang cantik dan seksi itu*

1. Delapan batang sereh (yang tua jangan yang muda) dipotong kecil-kecil. Lebih top lagi kalau diblender sekalian. Tapi berhubung gelas blender dipecahin sama tukang gas (terlalu bersemangat mencabut regulatornya sampai menghajar gelas blender di rak piring terlempar ke udara...sayangnya jatuhnya gak pakai efek slow motion kayak di film-film), maka serek saya iris tipis-tipis (kalau Kakak pakai gunting)

2. Masukkan dalam panci, tuang empat gelas air. Didihkan.

3. Biarkan mendidih sampai kurang lebih 5 - 10 menit, kemudian masukkan gula batu secukupnya dan teh tabur. (jangan teh celup ya, rasanya beda ntar) Biarkan mendidih 1 - 2 menit.

4. Saring, dan siap dihidangkan. Kalau si Kakak, paling senang lapisan kedua daun serehnya digulung, kemudian dijadikan sedotannya.

5. Saran penyajian:  sepoton sereh biarkan utuh, kemudian dipajang di gelasnya saat dihidangkan.









foto saya ambil dari: thisnext.com

Orang menjahit karena berbagai alasan. Sebagian untuk hobi, sebagian untuk kebutuhan. Sebagian lagi untuk mencari nafkah (seperti saya zaman kuliah dulu, *kenalkan*).

Menjahit juga bisa menjadi pembuktian (lho?!). Maksudnya begini: kalau kita dendam lihat baju di Butik X yang modelnya "cuma kayak gitu" tapi harganya selangit, setidaknya kita bisa membuat kembarannya dengan kain yang sama yang banyak kita jumpai di Mayestik ;)

Menjahit bisa menjadi salah satu cara relaksasi dan dapat menjadi solusi santai untuk menghabiskan sedikit waktu luang.

Hanya saja, kerap kita patah arang dan menyerah hanya karena proyek pertama gagal, atau bikin satu baju sampai satu setengah tahun baru kelar, saat ukuran tubuh sudah melar *asli pengalaman pribadi*

Apalagi, baju instan asal Cina di pasaran jumlahnya bejibun, dengan harga yang "amat sangat terjangkau sekali" pula. Bahkan, ongkos taksi dari rumah ke kantor saya, bisa untuk beli dua baju seperti ini.

Tapi percayalah pada saya - kebangetan kalau tidak - bahwa memakai baju hasil jahitan sendiri, akan lebih .... puwwaaasss *dengan intonasi mirip teman saya yang orang Malang*.

Setelah saya pikirkan dan renungkan (lebay mode on), ada sejumlah aturan main yang harus kita ikuti untuk sukses menjahit. Trik ini kayaknya agak sahih deh, terutama buat penjahit pemula. Gak percaya? Cobain saja:


Tips # 1: Ikuti arah. Kalau sudah menemukan model dan pola yang pas, terus di-break down, maka hal yang sangat penting adalah  mengikuti petunjuk pada pola. Penting untuk memeriksa seluruh pola sudah lengkap. Kemudian, lihat apa langkah-langkah yang harus dilakukan, sesuai urutan. Kalau membuat baju, saya akan mulai dari bahu, kemudian sisi badan, baru pasang lengan.

Tips # 2: Jangan lupa sisakan tepian kain untuk jahitan. Usahakan, panjang tepinya sama. Bila perlu, dibuat garis jahitan dari kapur jahit pada masing-masing sisi.

Tip # 3: Ukur, ukur, ukur. Yakinlah ukuran sudah benar sebelum mulai memotong kain. Pikirkan dua tiga kali dari berbagai sisi sebelum akhirnya mata gunting berbicara. Sayang kan, kalau kain yang sudah dibeli mahal-mahal akhirnya menjadi baju gagal atau kekecilan.

Tip # 4: Jangan ragu minta bantuan jarum pentul atau peniti. Ini untuk memastikan jahitan lurus dan tak repot menyatukan kain ketika siap dieksekusi di bawah jarum mesin jahit. Kalau saya, karena kerap tertusuk-tusuk jarum pentul, lebih enak dijelujur dulu. Jelujur? Itu lho, jahit tangan asal. Pakainya benang yang mencolok, kontras dengan kain biar setelah jahit mesin beres, tinggal ditarik benangnya. Teknik jelujur ini akan sangat bermanfaat sekali jika kita menggarap bagian-bagian yang lebih rumit: manset, kerah, atau keliman.

Tips # 5 Ini contekan dari tailor tempat suami saya langganan jahit celana. Rupanya, si bapak menyetrika celana tiap kali selesai menjahit dua potongan kain jadi satu. Hasil jahitan akan lebih rapi jatuhnya. Saya mempraktikkannya, dan sejauh ini berhasil. Coba deh.

Tip # 6 Tekun, sabar, teliti. Kalau memulai satu proyek, niatkan untuk menggarapnya sampai selesai. Nasihat ini buat diri saya sendiri juga :)

Selamat mempraktikkan.