twitter

Showing posts with label Mengenal alat jahit. Show all posts
Showing posts with label Mengenal alat jahit. Show all posts


Seorang teman bertanya, jarum pentul wajib ada ya, dalam kotak jahit kita? Tergantung. Bagi saya, jarum pentul sangat membantu memudahkan kegiatan menjahit. Jarum pentung membantu tangan agar tak 'kerepotan' saat menjahit, terutama terkait dengan kelim mengelim atau menjadit kain yang jenisnya licin.

Jarum pentul berguna untuk:

* menyatukan dua bagian pola sebelum dijahut agar rapi.

* mengelim bagian yang akan dijahit tindas agar lebih rapi hasilnya.

* mematut aksesori sebelum dijahitkan pada pakaian.



Sebetulnya, dalam lahit-menjahit, banyak alat yang bisa dikompromikan, selain benang dan jarumnya tentu saja. Seam ripper  yang pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya misalnya, misa digantikan dengan silet, cutter, atau bahkan pisau dapur (*serieus*). Jarum pentul bisa digantikan perannya oleh jarum jahit tangan, dengan cara menjelujurnya. Jadi don't worry gak ada jarum pentul, kegiatan menjahit tetap jalan. Kalau alat yang ini sih, emang tak tergantikan!


Catatan:

Siapkan wadah khusus agar tidak tercecer, terutama jika di rumah ada balita. Bisa ditancapkan di bantalan jarum yang dibuat sendiri seperti punya saya di atas itu (*pamer*) atau bisa juga ditempelkan begitu saja di magnet. Ngomong-ngomong soal magnet, ini penting juga lho. Kalau jarum kita jatuh, akan mudah ditemukan dengan 'mengoperasikan' alat bantu ini   ;-))





Ketika kecil dulu, saya kerap rancu membedakan jarum jahit mesin dan jarum jahit tangan. Hingga kemudian menemukan formula pembeda dengan kalimat sederhana: jarum tangan "mata" jarumnya di atas, dan jarum mesin di bawah. Melalui "mata inilah, benang disematkan, kemudian ditarik dan aktivitas menjahitpun siap.

Besar sedikit, saya berkenalan dengan mesin jahit. Tepatnya, ketika menginjak kelas 5 SD, ibu menghadiahi saya mesin jahit tangan. Girang. Serasa menjadi Lik Supri, guru mengaji idola yang mempunyai pekerjaan lain sebagai penjahit.

Semula saya mengira semua mesin jahit menggunakan jarum ukuran seragam. Ternyata salah. Jarum, seperti urutan anak-anak ibu saya yang susul-menyusul serupa anak kelinci, semua bernomor.

Kenapa bernomor? Mudah jawabannya. Menyesuaikan dengan ketebalan kain. Makin tebal kain, makin kuat dan besar jarum.

Lalu bagaimana menentukan jarum yang tepat? Ini ilmu warisan ibu saya, yang ketika dicocockkan dengan ilmu menjahit ketika era internet menyeruak, ternyata betul (Horee...meski ibu tak secanggih Sarah J Doyle yang sudah menghasilkan 25 buku jahit-menjahit, tapi ilmunya tak kalah....)

Begini kiatnya:

# Kain halus seperti sutra, sifon, renda, voile, atau organdi akan lebih pas jika menggunakan jarum nomor 9, alias jarum halus.


# Kain taffeta, beludru, kain stretch, triko, dan  plastik cocok dengan jarum ukuran 11.

# Kain dengan ketebalan sedang seperti katun jepang, popelin, linen, muslin, chambray, krep wol, flanel, rajutan, jersey, satin, dan sutra mentah, bisa menggunakan jarum nomor 14.

# Kain agak tebal seperti kain gorden atau kain untuk sprey jenis tertentu pas dengan jarum nomor 16

#Kain kelas berat nan tebal seperti jeans alias denim, cocok dengan jarum nomor 18.


Sebetulnya, tak mengikuti pakem itu juga tak apa-apa. Namun, kita harus siap dengan risiko jarum bengkok atau bahkan patah.

Sebaliknya, untuk kain yang halus, jika "dihajar" dengan jarum beberapa nomor di atasnya akan meninggalkan lubang di bekas tindasan jarum, yang ketika baju siap, tak manis dibuatnya.


Pembuka Benang (Seam Ripper) Dulu, ketika masih belajar menjahit dengan guru ibu saya, membuka jahitan -- bila ada kasus salah jahit, kebablasan jahit, atau inseiden "terjahit" -- dilakukan dengan silet merek Goal sisa bercukur bapak. Dampaknya, tak hanya jahitan yang kebuka, tapi juga kainnya turut tersobek, apalagi bila dilakukan terburu-buru (karena terlalu bernafsu ingin segera melihat hasil akhirnya). Maka ketika suatu hari menemukan alat untuk membuka benang, girangnya bukan main. Alat pembuka benang ini mempunyai dua poin, satu bagian tajam dan satunya lagi melindungi kain agar tidak turut tersobek. Pengoperasiannya sangat mudah dan tak perlu buka mata lebar-lebar seperti halnya menggunakan silet Goal bekas bapak bercukur tadi. Jenisnya pun beragam, dari yang kecil, sedang, hingga besar, tergantung kebutuhannya. Kalau untuk menjahit sederhana di rumah, yang ukuran kecil saja sudah cukup. Kegunaan: Membuka jahitan yang tak dikehendaki. Cara penggunaannya bisa dilakukan dari tengah-tengah jahitan atau dari salah satu sisi benang, yaitu dengan "mencincang" benang dengan jarak 1-2 cm sampai selesai, kemudian tarik sisi benang lainnya. maka jahitanpun terbuka. Perawatan: * karena ujungnya lumayan lancip, apalagi bila pelindung lancipnya (duh...gimana ini ngomongnya?) hilang, maka usahakan agar "topi"-nya senantiasa terpasang bila tidak digunakan. Bila tidak, cedera tertusuk sangat mungkin terjadi. * Bila mulai tumpul, asahlah dengan cara menggesekkan bagian tajamnya dengan pisau baja. Lakukan pelan-pelan saja.