twitter

Showing posts with label blog. Show all posts
Showing posts with label blog. Show all posts


Photo taken from: http://plasticscolor.com/blog/wp-content/uploads/2013/01/mom-baby.jpg

Mimpi di siang bolong (kenapa juga harus bolong yak?) : teman zaman masih sama sama memegang rubrik internasional dulu,  datang bersama suami dan tiga anaknya. Yang bontot, bayi usia tiga bulanan. Agak kaget juga karena seingat saya (bahkan dalam mimpipun logika masih bekerja), anaknya cuma dua.

Singkat kata, karena dia mau liputan ke Kementerian Luar Negeri, dia menitipkan bayinya yang ampun-ampun rewelnya pada saya. Girang betul, karena serasa punya anak lagi.

Padahal saat itu, dalam mimpi itu, sayanya juga lagi repot betul. Banyak kerjaan, hingga karena butuh ketenangan, saya memboyong laptop ke bawah pohon di kebun orang (enggak usah protes kenapa ke kebun orang ya, namanya juga mimpi). 

Begitu mereka pergi, saya menimang-nimang bayi yang saya lupa bertanya namanya yang rewelnya minta ampun itu. Sekali dua kali ayun, dia masih saja rewel. tapi begitu digendong dan sayanya bersenandung semerdu Barbra Streisand (jangan protes juga, sstt..), matanya mulai liyer-liyer lima watt gitu, lalu tertidur.

Tapi tiba-tiba ingatlah saya masih  meninggalkan laptop di kebun orang: kalau hilang bagaimana? Mau mengambil, tapi kok sayang betul takut sang bayi terbangun. Lalu alam setengah sadar mulai masup. "Biar sajalah ilang, wong cuma dalam mimpi ini," batin saya. Wak...bangun deh jadinya....semua cuma mimpi... :)

Kenapa harus teman yang sekarang sudah resign dan menikmati kehidupannya sebagai ibu rumah tangga yang datang? Aha, barangkali karena tiap kali membaca berita di situs luar negeri, krisis politik  Thailand tengah jadi topik bahasan. Saya dan dia dulu suka membahas tentang rasa 'kasihan' kami pada perdana menteri Thailand saat itu, Abhisit. "Dia datang di waktu dan tempat yang salah," katanya suatu ketika. Saya menimpali dengan enteng, "Coba kalau dia datang pada saat Andy Tennant hendak membuat film Anna and The King, di Hollywood sana. Pasti dia yang akan mengimbangi Jodie Foster berakting, bukan Chow Yun Fat." Ya, dia terlalu ganteng untuk menjadi perdana menteri hik hik.

Sang teman resign pada saat saya berhasil mengeja namanya dengan benar: Abhisit Vejjajiva
. (selama ini, kalau menulis berita kerap salah, dan dia yang membenarkan ejaan namanya).

Tapi wait...kata orang Jawa, mimpi tentang bayi bukan mimpi biasa. Tapi sarat makna. Mau dapat rezeki salah satunya. Jadi mari berhitung: sehari dua hari, tak ada apa-apa.

Namun di hari ketiga, aka hari ini, "apa-apa" itu terjadi. Tiba-tiba, Anak Lanang pulang sekolah setengah berlari, menyerahkan amplop. Isinya, uang tabungan dia selama kelas lima, dan hadiah dari dua kejuaraan yang dimenanginya saat mewakili sekolahnya. "Buat ibu semua," katanya. Wow...tiba-tiba si 'debt collector' uang saku saya tiap pagi ini murah hati betul....

Dia datang hanya beberapa jenak setelah kedatangan pasutri yang selama ini membantu kami merawat rumah imoet kami di Parung, mengantarkan amplop juga. Rupanya, setelah dua pekan ditinggal pengontrak lama, ada pengontrak baru  yang datang. Tak seperti biasanya membayar untuk setengah tahun, kali ini pengontrak baru membayar penuh untuk masa kontrak setahun.

Ini toh, arti mimpi itu? Mungkin iya, mungkin juga yang satu ini: mereka datang dengan menggendong anak bungsunya yang berumur delapan bulan. Ketika saya menyorongkan tangan, Adelia, nama bayi itu, menyambutnya dan saya menimangnya, persis seperti dalam mimpi. Cuma bedanya, suara merdu Barbra Streisand saya enggak keluar. Takut dianya tertidur pulas (whattttt??????).



Aku memang bukan darah dagingmu, emak, tapi aku tak pernah menyangsikan sayangmu. Enam belas tahun kau selalu ada untukku, bahkan ketika kesehatanmu berada di titik terendah. Selamat jalan, Ma'e, Allah menjagamu. (Pekalongan, 10 Desember 2013, pukul 02.17)




huk..huk...itu saya *nyengir keledai*

Apa yang dipamerkan? Hadiah tablet impian dari suami tersayang.

Dia memilihkan yang bisa dicorat-caret biar lebih gampang berdiskusi dengan pelanggan mengenai model baju pesanan. Juga membuat pola, mengingat untuk urusan visual, istri suami saya (alias: saya)  miskin betul.

Gambar di atas, adalah  contoh "kesaktian" tablet baru saya. (Sesuai judul: mau pamer he he).




Menemukan 'kartu pers' Kakak saat menjadi wartawan di Kidzania beberapa tahun lalu, mengingatkan saya pada obrolan dengan Pak Lurah di desa tempat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) hampir 20 tahun lalu. Zaman saya kuliah, KKN menjadi syarat wajib biar bisa menyandang gelar sarjana.

Empat tahun setelah KKN, kami berlima yang sama-sama sudah lulus dan bekerja di berbagai kota, sepakat untuk bereuni di desa KKN dulu yang letaknya nun jauh dari kota, berbatasan dengan hutan di Kecamatan Karang Anyar, Purbalingga. Haris batal ikut, karena ada meeting dengan klien potensial perusahaannya.

Pak Lurah: kalian sekarang dines dimana?(Dines is from a word: dinas. Kerja dalam bahasa sono).

Lenny: (saat itu menjadi dealer valas termuda di bank swasta ternama di Jakarta) di bank, pak. (Pak Lurah segera acung jempol).

Sigit: (juga bekerja di kantor pusat sebuah bank BUMN) saya juga di bank.

(Pak lurah terlihat mengangguk-angguk dengan wajah sumringah. Tampak betul blio sangat bahagia)

Ketut: (yang memang dari dulu bercita-cita bekerja di kapal pesiar asing, menjawab mantap: ) di kapal pesiar Itali, Pak.

Saya: (ketimbang ribet menjelaskan bahwa saya bekerja sebagai wartawan di sebuah media nasional, yang kerjaannya memburu dan menembus nara sumber seharian hanya untuk membuat tulisan 3.500 karakter,  menyederhanakan kalimat dengan: ) saya bekerja di koran, Pak Lurah.

Pak lurah: dengan tatapan prihatin tajam ke arah mata saya, menjawab tak kalah mantap, "Tak apa-apa Nak Siwi, yang penting halal!"

Kami semua mesem-mesem mendengarnya. Sejak itu, ketiga teman saya ini selalu terbahak bila mengingat percakapan ini. Tentang pak Lurah yang prihatin "anak"-nya jadi penjual koran di lampu merah jakarta.

Namun seperti kata blio, apapun pekerjaan adalah mulia, yang penting halal. Percuma jadi menteri, petinggi partai, atau pengusaha kaya raya, tapi diperoleh dengan cara tak halal, aka K-O-R-U-P-S-I. Betul tidak?

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Jalan-jalan dengan Mbak Rayem dan anaknya, Harini, ke Mal dekat rumah. Si Kakak pulang sore, ada kegiatan di sekolah. Si Adek, yang bercita-cita jadi pemain Timnas, ikut Olompiade Olah Raga se-Banten di Cilegon. Emaknya "merdeka"!

Rencana awalnya sih ambil e-KTP terus baru jalan-jalan, tapi batal. Agak heroik, karena baru separo jalan, hujan petir mengguyur. Lari tunggang langgang berteduk di halaman rumah orang. Untunglah, saya tinggal di kompleks yang berbatasan langsung dengan perkampungan warga, yang friendly dan tanpa pagar keliling. Saya berteduh di bale-bale rumah seorang ibu Betawi asli. Ditawari masuk, tapi kami memilih tetap berada di depan rumah, menikmati rinai hujan. Ketawa-ketawa saat kilat petir, kami berlaku seolah-olah sedang difoto dengan kamera raksasa. Hahahaha...

Begitu hujan reda, kami melanjutkan jalan kaki ke jalan utama. Tujuannya, mencegat angkot yang melewati jalur depan mal.

Dalam angkot. Walau hujan, gerah juga. Akhirnya Harini pindah ke depan pintu, dekat mamanya.Padahal tadinya sudah dapat posisi pe-we di pojok kanan





Lapar kan? Makan dolo di resto favorit yang ciri khasnya tampilan inteririornya berwarna ungu itu. Menu favorit kami di sini: kwetiauw goreng sapi. Tapi Mbak Rayem memilih menu beda, Mie Ayam. "Yang pedas, buat obat sariawan," ujarnya.

Harini mampir ke toko aksesori. Girly pisan, ini bocah. Langsung mencari sesuatu yang pinky-pinky.

Pinky? Wait! Saya memilihkan aksesori yang berbeda, hijau. Jadilah bando ijo dipilihnya. Ini foto yang sama yang saya tunjukkan padanya, sebagai "barang bukti" bahwa hijau juga cantik. Lihatlah senyumnya langsung mengambang! Jepit pink dan bando hijau, itulah akhirnya yang dipilihnya.Habis itu, Mbak Rayem mencari sandal.

Acara hang out diakhiri dengan....belanja! Saya dan Harini sama-sama centil, kata Mbak Rayem. Apa pasal? Kami berdua membeli wadah-wadah plastik aneka warna yang belum tahu mau dipakai buat apa....he...he...> Bentuknya lucu sih. Seapes-apesnya, bisa buat bikin puding, lalu dicemplungin ke tas para cindil buat bekal ke sekolahnya.





Foto dicomot dari  http://www.cuorhome.net/heart-images/shopping/buy-handmade/dd caption
Lega...setelah memutuskan untuk mengembalikan satu dari dua 'orderan' dari seseorang yang saya duga tak mengetahui cara menghargai handmade.

Ceritanya, seorang ibu menghubungi saya via Facebook, karena tertarik dengan salah satu kreasi saya. dalam foto yang dia taksir, saya menghias baju batsleeve dari kain sutra Thailand (koleksi saya sebelum insyaf berbangga membeli produk impor) dengan edging rajutan. Sebelum blio, saya sudah mengerjakan sekitar 15 sampai 20 pesanan, dengan motif edging yang berbeda. Aman-aman saja. Saya puas karena mereka puas dan mengirimkan foto mereka bergaya dengan baju buatan saya.

Ternyata oh ternyata, sang ibu tinggal tak jauh dari rumah saya. "Saya antar sendiri aja," ujarnya, setelah tahu kami tinggal di kompleks yang sama.

Dia membawa sendiri dua baju dari bahan organdi, dan minta diberi edging rajutan. Gaun pesta. Warnanya tak pasaran. Bisa dipastikan, harganya di atas Rp 50 ribu (bawang merah sekilo masih di atas itu).

Begitu ada di tangan saya, hari-hari saya serasa 'diintimidasi'. Beberapa hari sekali, blio mengecek apakah sudah digarap atau belum, padahal sebelumnya saya sudah menegaskan antrean masih panjang, karena saya mengerjakan semua sendiri, dengan tangan dan jemari lentik (ngaku-ngaku lagi, he he) saya.

Akhirnya, selesailah satu, dan sayapun 'melaporkan'-nya. Blio minta perincian 'ongkos'-nya (jadi inget, suka baca tulisan "terima ongkos bubut", apa maksudnya ya?). Saya pun merinci: karena kainnya bagus, tentu akan kebanting kalau saya menggunakan benang katun bali yang ukurannya agak gendut dibanding serat kainnya. Maka saya pilih menggunakan katun halus yang harga pergulungnya Rp 25 ribu (tempo hari waktu beli benang yang sama di toko craft di Living World Alam Sutra  pergulung harganya malah Rp 85 ribu). Sesuai saran beberapa parajut profesional tentang penentuan harga,   saya menganut paham yang untuk satu gulung benang saya memasang ongkos Rp 35 ribu. Jadilah perbaju Rp 60 ribu, dan dua baju Rp 120 ribu.

"Dilempengin aja ya Mbak, jadi Rp 100 ribu," ujar ibu jelita bak pragawati itu. Gedubrag, gerobag! Cetar membahana badai sebenar-benarnya badai!

Karena dia menelepon selalu, saya berasumsi dia hendak buru-buru mengenakannya, maka saya mendahulukannya dari yang lain. Saya menggarap ending sepanjang 6 meter dari baju model "Syahrini" itu secara maraton sejak pukul 17.00 sampai mundur pukul 02.00 hanya demi bisa dipakai blio buat kondangan hari ini. Saya juga memilihkan motif rajut yang pas, demi mendukung kesan "wah" baju itu.

Dan kini, blio menawar karya saya itu lebih murah dari sekilo bawang?

Baik, mari kita bersikap. Mari kita packing dengan apik dan masukkan ke tas yang juga apik. Mari kita antar ke rumahnya dengan cara yang apik (bojo tercinta segera men-starter si Putih untuk mengantarkan istrinya si 'tukang' jahit dan rajut ini :D ), bukan diambil seperti mau blio. Mari kita serahkan dengan cara yang apik. Semuanya, dua baju.

Saya tak sanggup mengerjakan baju yang satunya, yang sudah saya pesankan benang viscose dari Surabaya, di toko online langganan saya. Saya memilih mengembalikan. Bukan karena saya tak mampu, tapi saya tak sanggup. Saya bukan tukangnya, dan bukan tukang sayur langganannya. Saya tak pernah tawar-menawar dengan karya saya, karena semua saya pikir sudah saya beri harga secara sepadan.

Ketika blio menawarkan "ongkos", saya menolak dan hanya bilang, "Jika sempat, transfer saja ke rekening saya, ibu. Kapan sesempatnya ibu saja."

Sekian, dan terima orderan kasih :D






Mbak Rayem perempuan perkasa. Dia menjadi mitra sejajar Pendi, suaminya, yang berprofesi sebagai handyman. Dua belas tahun mereka mengarungi biduk rumah tangga berdua.

Mengapa dia perempuan perkasa? Tak perlu berkoar tentang emansipasi, dia pejuang emansipasi sejati. Saat suaminya banting tulang mencari uang untuk menafkahi keluarga, dia tak tinggal diam. Dia menjadi pekerja rumah tangga penuh waktu delapan jam sehari (di rumah saya, sodara) dan part time di sebuah keluarga lainnya.

Bersama suaminya, dia berbagi peran. Ketika pagi dia meninggalkan rumah sebelum sempat membuat sarapan pagi, maka suaminya yang akan menyiapkannya. Begitu juga malam hari ketika saya telat pulang dan dia terpaksa kerja lembur menunggui anak-anak saya. (Kerja lembur = kerja di luar jam dia seharusnya. Kompensasinya, saya harus memberinya uang lembur).

Seharian di rumah kemarin, saya menjadi bak wartawan infotainment yang menguntit aktivitas sang idola seharian. Berikut ini laporan saiyah untuk pemirsah semua:

Pukul 07.00

Membuka pintu depan dengan kunci cadangan, bergegas ke belakang. Pagi ini dia memasak bakwan, sayur labu dan ikan. "Kopi di luar, bu!" teriaknya. Secepat kilat dia sudah menghilang saat saya mengambil kopi racikannya yang rasanya bak kopi bikinan barista ternama. Kemana dia? Pergi ke rumah satunya, tempat dia kerja part time, untuk hanya mencuci dan menyetrika, serta beres-beres rumah.

Pukul 09.30

"Bu, cucian kotor tolong dikeluarkan," ujarnya dari balik pintu kamar. Saya, yang sedang asyik merekap pesanan dari olshop saya, kaget, karena tak mendengar kapan dia masuk rumah. Asal tahu saja (pamer?) pintu depan saya pasang miniatur lonceng pedati, sehingga saat pintu dibuka dan ditutup, gemerincing lonceng nyaring terdengar (kayak di warung-warung Amrik di film Hollywood tempo doeloe). "Masuk aja Mbak. Ayah udah berangkat kok," kata saya. Dia masuk, sambil menceritakan hal-hal yang terjadi kemarin: tentang suaminya, Harini, dan tentang tukang sayur yang dia duga salah pasang harga. "Mosok labu satu tiga rebu," ujarnya.

Pukul 11.00

Sudah menyelesaikan acara cuci-mencuci dan mengepel lantai. Juga membereskan rumah yang tadinya bak kapal pecah menjadi rapi jali. "Menyetrika besok aja, sekalian ya bu," ujarnya. Sebelum pamit pulang untuk menyambut anaknya pulang sekolah.

Saya memintanya nanti jam 13.00 bersiap-siap di depan rumah kontrakannya. "Mau kemana?" tanyanya.

"Kita jalan. Namanya refreshing. Biar pikiran terang," ujar saya sekenanya.

"Hayuk. Biar sariawan di lidah segunung, kalau acaranya jalan-jalan mah, hayuk bae," katanya bersemangat. Saya ikut bersemangat. Horee....ini yang namanya girls outing sodara!

Pukul 13.00

Hang out bersama Harini dan saya ke mal terdekat. Sekalian mengirim paket-paket pesanan. Yang ini saya ceritakan besok ya, asyik soalnya!


Pukul 17.00

"Astaga, Ibu! Ngamuk atau bagaimana? Kamar sudah diberesin berantakan lagi!" ujarnya. Saya nyengir saja. Kalap menyelesaikan pesanan yang harus kirim sore ini, membuat seluruh peralatan tempur turun main. Berantakan!

"Mbak dilarang masuk," giliran saya setengah teriak pula, sambil ngakak. Di luar Mbak Rayem masih ngomel-ceria (alias bukan ngomel betulan), "Ibu kerjanya cuma berantakin aja. Ngerjain saya nih, ibu."

Saya membereskan, sambil bilang, "Pokoknya hari ini aku beresin Mbak. Kalau besok masih ada yang berantakan, itu sengaja. Biar Mbak Rayem ada bahan ngomel besok." Haha...jailin doi.

Pukul 17.30

Berkemas pulang. "Cabut rumput belakang besok saja, akhir pekan," katanya. Aku mengiyakan saja. Akhir pekan, artinya dia akan mengerahkan para sohibnya yang mengontrak rumah petak milik orang yang sama. Setelah itu, biasanya mereka akan bersama-sama ke pasar kaget di dekat rumah, menghabiskan uang tips cabut rumput untuk "wisata kuliner" bersama.

Mbak Rayem, perempuan perkasa itu, sebenarnya adalah guru saya: dia mengajarkan saya untuk menjalani hidup apa adanya. Bahwa bahagia bisa diraih dengan cara-cara yang sederhana.


Di antara semua batik, mana yang Anda suka? Kalau saya, sogan. Klasik, antik. Tak lekang oleh waktu (lebay). Maksud saya, motif batik kontemporer boleh datang dan pergi, tapi sogan tetap abadi.

Motif parang yang paling saya suka. Parang rusak apalagi. Walau namanya "rusak", tapi wujudnya sungguh ciamik.Di foto di atas, nomor tiga dari atas (kiri) dan nomor dua dari atas (kanan).

Sogan bisa diadu dengan warna apa saja. Dia berteman akrab dengan hitam dan putih, juga coklat. Tapi saya juga pernah menabrakkannya dengan warna gonjreng, merah darah, dan membuat saya hari itu merasa menjadi wanita tercantik di seluruh jagat raya tanpa harus tanya sama mirror mirror on the wall. (Cuek wee sekali-kali sama bojo tercintah yang melotot-melotot karena benci warna merah. Huahahahahuahahaha *ngakak setan*).

Tapi kenapa jadi harus pamer sogan di sinih?!

Ini gara-gara menjelang tengah malam ada yang menanyakan koleksi sogan dan berniat membeli. Jadi saya foto. Daripada cuma dicemplungin ke fesbuk, ya cemplungin juga ke sini...*meringis keledai*

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Apakah menjahit itu bakat, atau keterampilan yang bisa dipelajari, atau diturunkan secara genetik (rada ngawur inih)?

 Semula, saya menduga diturunkan secara genetik. Berdasar wawancara singkat dengan ibu, mbah putri, dan cerita mbah putri tentang ibu dan nenek blio, mereka mengaku tak pernah belajar menjahit. Otodidak. Mbah memang pernah mendapat ilmu itu di Sekolah Kartini (Sekolah Keputrian), tapi jauh sebelum itu, blio sudah mahir membuat kutang sendiri begitu memasuki usia baligh. Saya dapat ilmu mengoreksi beberapa kesalahan jahit dari blio.

Namun, teori itu tumbang ketika Indah, adik saya tercinta, sangat lugu (bin culun) berhadapan dengan jarum dan benang. Jangankan membuat baju, men-soom baju anaknya yang kelimannya lepas saja yang keluar adalah jurus tusuk jelujur. Walhasil,  jadilah jejak mirip separator jalan nemplok di baju. Kalau sepersekian gen jahit diturunkan, tak usahlah bikin baju Cinderella, paling gak masang kancing pasti bisalah. Ini boro-boro.

Maka, teori kebisaan (?) menjahit adalah diturunkan secara genetik secara otomatis tumbang dengan fakta ini.

Kini, tinggal dua teori tentang jahit yang saya yakini benar: otodidak, dan keterampilan yang bisa dipelajari. Teman saya (tak usah sebut nama ya?) jebolan perguruan tinggi ternama dengan indeks prestasi mendekati cum-laude (malangnya: dia sekantor dengan saya yang lulus dengan nilai ala kadarnya!) tiba-tiba punya keinginan gila: kursus menjahit. Padahal, jangankan berkencan dengan mesin jahit, bahwa jarum mesin dan jarum tangan itu beda saja dia baru tahu belakangan di tempat kursusnya.

Dari yang paling dasar, kini dia sudah piawai bikin baju, celana, dan piyama untuk suaminya. Bahkan makin hari makin menggila: menguasai aneka ilmu pecah pola. Ck ck ck!

Saya sampai terkagum-kagum dan ngiler ingin ikut kursus pula. Selama ini, saya menguasai ilmu perjahitan (what?!) secara otodidak. Tepatnya sejak kelas 5 SD, saat ibu menghadiahi Siti Nurbaya. Pecah pola, dilakukan secara trial and error. (Jadi ingat: ilmu membuat kantong bobok didapat atas kerja sama dengan kakak lelaki saya yang jago matematika dan jago menjahit.  Kami merancang pola dan dia mengukur dengan ukuran yang teliti dan cermat dengan penggaris dan busur. "Beda 2 mili, beda hasilnya," sabdanya. Saya manggut-manggut saja, percaya).

Lalu kenapa tiba-tiba ingin kursus? Panjang ceritanya. Tepatnya sejak membuka lapak di Etsy dan lalu Facebook. Makin meruncing setelah seorang pelanggan baru yang 'berbobot' memesan baju ukuran XXXL.

Curcol dikit: saya tak tega menolak kesungguhannya memesan. Lebih dari itu, saya merasa terhormat blio berkenan memesan karya saya. Akhirnya saya sanggupi. Pola saya modifikasi sendiri tanpa ukuran pasti, hanya berpatokan pada lebar pundak, lingkar dada, pinggang, dan panggul yang dia berikan. Saya tak bisa membuat pola sesuai teori-teori yang diberikan di kursus jahit, jadi, saya buat dengan dasar pola ukuran saya, yang juga dibuat secara asal (tapi enak dipakai lho).

Jadi, besok adalah pertaruhannya. Kalau setelah baju terkirim dan dia cocok, artinya penjahit otodidak ini harus mikir ulang ikut kursus atau tidak. Tapi kalau ternyata blio tak puas dengan hasilnya, maka tak ada tawar-menawar: KUDU MENDAFTAR KURSUS SEGERA!!!!!!!!

 Menyulap ukuran L jadi XXXL


Bagi yang suka bingungan kayak saya, mungkin yang ini bermanfaat. Dicomot dari laman Facebook-nya FASTdealSG . Monggo dipelajari, diresapi, diamalkan (apa coba?! emang penataran P4...he he)




 Nyesek banget rasanya, kalau sedang enak-enak merajut, tiba-tiba benang habis :(
Mana dikejar tenggat pula.

Ini yang terjadi pekan lalu. Order online, kagak juga ditanggepin pemilik situs. Akhir pekan lalu, dia janji Senin dikirim. Tapi bukannya benang yang nongol, melainkan pemberitahuan: benang jenis yang kuminta sudah tak diproduksi lagi. Hadeuh!

Maka memutuskan untuk hunting sendiri ke toko-toko benang di Jakarta. Setelah menyisir dua gerai Hoby Craft dan ternyata nihil hasilnya, maka satu-satunya lokasi adalah toko benang di daerah Kota Tua.

Maka di tengah rinai hujan, ber-busway ke Jakarta. Agak 'heroik' karena - tahu sendiri kan, Jakarta kalau hujan? - busway penuh sesak dan mobil pribadi masuk jalur. Macet ampun-ampun!

Tapi lega rasanya, ketika menemukan benang impian, meski harganya sudah berlipat dari tahun lalu. So, here i am....di pojokan ruang craft di belakang rumah sambil mbrenthel menyelesaikan pesanan. Sabar ya Mbak-mbak semua yang sudah jauh hari memesan :)


Pelajaran penting bagi saya untuk:

1. Jangan ragu beli banyak benang jika cocok, karena belum tentu nemu lagi di lain waktu
2. Jangan mengiyakan pesanan sebelum melihat stok benang *penting, catet*
3. Jangan belanja ke kota dengan menggunakan rok dan sepatu formal apalagi saat hujan kalau tak siap untuk 'sengsara'


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Facebook sudah terlalu hiruk pikuk. Bak kota metropolitan yang mulai congkak. Saatnya menepi. Dan kembali berumah di sini :)


Ingan zaman jebod, bawa sak keresek jahitan ke pasar, tepatnya tukang obras. Tak selalu beruntung, karena hanya blio dan Tuhan yang tahu kapan harus buka atau tutup. Apes betul kalau jauh-jauh dituju - setara naik turun dua bukit - ternyata angin sedang bertiup ke arah yang beda: si bapak tak buka lapak. Gilirannya buka, antreannya ngalahin antrean minyak murah di warung sebelahnya.

Sabar...wuih, sakti betul kata itu. Sembari menunggu giliran, sembari cicip sana cicip sini. Paling sering, ngebakso (sama es cendol, kadang es campur, lalu milih2 jepitan, alat2 jahit...halah).

Ujung-ujungnya, biaya "sosial" nya lebih tinggi ketimbang ongkos obras lima baju yang kadang gak nyampai Rp 20 ribu.

Syukurlah, kini ada si Putih. Setelah mencoba aneka stich, ketemulah yang paling mirip dengan obras.
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Setelah lama ngiler sak ngiler-ngilernya sama batik motif lawas tiga negeri, Alhamdulillah, kesampaian semua bulan ini.
# Pertama, tas tiga negeri. Hasil sabar inden di sebuah toko onlen. Toko ini keren betul, termasuk harganya juga :-)
# Kedua, sarung tiga negeri. Yang ini hasil "nembak" tak sengaja di pameran batik Pasar Indonesia di JCC tempo hari. Mengeluspun, sudah puas rasanya. Tiba-tiba, bojo tercinta yang serasa sudah jadi anak ibu pemilik stan dalam hitungan menit, melontarkan sebait harga. tiba-tiba pula tanpa perlawanan, si ibu langsung mengangguk. Ck ck ck...ternyata tak cuma saya yang kelepek-kelepek dengan mantera-manteranya, juga si ibu pemilik sarung tiga negeri....
# Ketiga, kain tiga negeri. Kalau yang ini, murni salah kirim pemilik satu toko onlen. Saya membeli kain semarangan lawas, lha kok yang dikirim kain tiga negeri. Rejeki nomplok banget kan? Tadinya sih mau aksi diam-diam kagak usah mengaku. Tapi hati terdalam menganjurkan sebaliknya. Akhirinya PM-an sama pemilik toko. Hasilnya; tiga negeri tetap jadi milik saya, dan saya harus menambah sekian ratus rupiah untuk kain semarangan yang saya taksir. Jodoh memang kagak kemana yak...



hahay.....empat cindil saya yang lain ini, menggagalkan acara pemotretan kain-kain batik koleksi kebanggaan saya sore ini. Mungkin, mereka mengingatkan saya untuk tidak pamer hehehehe....
Iya deh. *simpan lagi*


Foto diambil dari http://hdw.eweb4.com/out/477866.html

Obrolan semalam dengan cindil saya tentang hal konyol yang pernah dilakukan. Dia cerita tentang (*&(^%*())*&*^*&& (*tuink...tuink...gak boleh ember omongin rahasia orang).

Saya, emaknya, ngakak paling keras.

Lalu giliran saya membuat pengakuan dosa. Hal konyol yang pernah saya lakukan adalah:


* Nowel cake penganten setinggi orang di sebuah toko cake terbesar di kota saya. Lalu dimasukin ke mulut pula. Padahal....itu cake bo'ongan, dan yang saya towel masuk mulut itu....lilin lah temtu sajah!

* Makan intip goreng sambil ngobrol seru dengan dua kakak. Tiba-tiba secuil intip terjatuh dari mulut saking semangatnya ngobrol. Tanpa dosa, diambil dan dimasukkan mulut lagi. Kok beda rasanya? Tepok jidat....ternyata pup cicak.

* Tua dikit, saat SMA, milih jalan kaki 4 km meter tiap hari hanya demi segelas es cendol di dekat terminal Purbalingga. Mikirnya sampai botak, antara kemringet tapi minum cendol atau sriwing-sriwing naik beca tapi mulut garing.

* Selesai kuliah, dapat panggilan kerja di Jakarta, barengan dengan zaman berganti dari era tape recorder menjadi era CD player. Secara orang udik baru datang ke Jakarta pula, gak mudeng kenapa piring sangat ceper gitu kok bisa bunyi lagu. Sohib masa kecil yang sudah jadi borju di Jakarta lebih dulu (karena kerja jadi pramugari di sebuah maskapai jempolan) mengajak jalan-jalan ke Plaza Senayan yang belum lama berdiri, dan minta ditemani beli keping CD. Sementara dia sibuk mencoba CD dengan headphone yang disediakan toko kaset itu, orang udik satu ini sibuk membalik-balik CD, mencari mana side A dan side B nya. *masih mesem-mesem kalau ingat sekarang*


Gambar: Batik motif Hokokai, salah satu koleksi saya.

Sedang kesengsem berat sama batik-batik motif lama. Bermula saat mendengar cerita ibu tentang empat kain batik almarhum simbah -- beliau tak pernah kersa memakai batik selain batik tulis -- dicuri orang sewaktu simbah diopname di rumah sakit menjelang berpulang ke Rahmatullah.

Tak terasa, koleksi kini hampir 25 lembar. Hampir semua dibeli online, kecuali batik motif banyumasan. Yang ini beli di Bobotsari, di pengepul batik dari para pengrajinnya. Agak sedikit "heroik"...karena:
 1>  saking kalapnya, dompet jebol dan harus gesek kartu.
2> Bisa sih pakai kartu kredit, cuma harus menunggu si babah bangun karena dialah satu-satunya yang bisa menggunakan alat penggesek itu.
3> Jadilah saya berjam-jam di toko itu, hanya demi menunggu sang babah bangun karena tak satupun karyawan yang berani membangunkannya......


Owya, akhir pekan yang sangat menyenangkan adalah ketika menyambangi kebunnya @Banten Berkebun dan ikut panen kangkung organik. Wuih...dua cindil saya girang betul!
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Siapa 'pejuang' paling tangguh di dunia ini? Bagi saya: rumput liar.

Saya kerap terkagum-kagum ketika naik Transjakarta, di jalur khusus mereka kerap muncul ini: rumput, tumbuh sendiri, di atas aspal. Saya membayangkan sang akar pasti berkelana menembus apa saja demi mendapatkan akses akan unsur hara.Demi tetap terus hidup.

Rumput liar, dia tumbuh di mana saja. Bahkan di tempat-tempat yang kelihatannya mustahil baginya tumbuh; di tembok terowongan jalan tol, di tengah lapangan basket yang seluruh permukaannya di semen, di mana saja.

Ketika angin menerbangkan biji atau burung menjatuhkannya, maka seolah 'wajib' baginya untuk tumbuh. Bagaimanapun caranya. Dan, dia benar bisa tumbuh. Mungkin tak sesubur saudara biji yang jatuh di atas tanah lapang, tapi dia membuktikan bisa survive.

Dan sore ini, saya terkesima ketika melihat rumput tinggi, di atap atas kamar Adek. Benar-benar tak menyadari, sampai dia menjulang tinggi! Kalau yang ini, bisa bermakna ganda sih, dia yang pejuang tangguh, atau saya yang tak pernah peduli rumah sendiri?
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone




"Menyiapkan diri menjelang pensiun ya Mbak?" komentar seorang teman, tentang saya yang belakangan tekun belajar crocheting, atau kita kerap menyebutnya merajut. (Catat: usia saya masih jauh dari usia pensiun!)

Saya tak kaget. Komentarnya adalah yang ke-1001 yang saya dengar. Bahkan, jauh sebelum saya belajar merajut pun, saya sudah mendengarnya. Mungkin di lubuh hati terdalam, sedikit membenarkan.

Saya berkenalan dengan rajut merajut pertama kali 30 tahun silam. Saat itu, nenek jauh ibu saya yang istri pensiunan camat (Mbah Sisten, demikian orang memanggil, berdasar jabatan suaminya sebagai 'asisten', camat di zaman Belanda) mempunyai klub crochet. Anggotanya, lima nenek yang sama-sama sepuh.

Berkala, mereka ngumpul di rumah Mbah Uyut Sisten, biasanya sore hari, sambil mengudap camilan yang disiapkan Mbak Uyut dari siang. Sambil mengobrol, tangan mereka sibuk mBrenthel, merenda alias merajut alias crocheting. Jeda sesekali untuk main bridge, kemudian merajut lagi.

Saya, menonton dengan takjub. Pulang ke rumah, mencari hakpen ibu saya, membuat rantai. Titik. Dari zaman jebod sampai 1,5 tahun lalu, saya hanya bisa 'merantai' saja.

Hingga suatu hari, saya 'lost in Blok M'. Tepatnya, terlalu dini menjemput teman di pool Damri Blok M, padahal pesawatnya dari Makassar delay 2 jam.

Merintang waktu, saya muter Blok M, sampai kemudian parkir di sebuah toko alat-alat crafting. Mata tertuju pada hakpen, dan memori masa silam terputar. Saya memutuskan membeli 'memori' itu.

Di rumah, saya belajar giat. Membuka Youtube, kembali belajar crocheting. Sampai kemudian mata terbuka, bahwa di luar sana, banyak pula orang yang sama jatuh cintanya pada crochet seperti saya, dan rata-rata berusia belia. Beberapa kali, saya menemukan bukan nenek-nenek di angkutan umum dan kami menekuni  hobi yang sama, seperti pernah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya.

Hingga tak sadar, kini puluhan teman saya di Facebook adalah penyuka crochet, tanpa kami saling kenal satu sama lain sebelumnya. Bahkan hingga kini, banyak di antaranya yang kami belum pernah bersua. Kami mengobrol apa saja, mulai teknik crocheting, membaca pola, hingga menentukan harga jika ada yang berminat dengan karya kita, hal yang paling membuat saya kagok :)

Jadi, menjawab komentar teman saya tadi, saya menjawab setengah bercanda dengan merujuk pada teman-teman belia saya yang sama-sama belajar crocheting, begini, "Begitulah...entah saya yang terlambat belajar, atau teman-teman saya itu yang terlalu awal menyiapkan masa pensiunannya." Asal tahu saja, teman-teman yang belajar crochet bersama saya rata-rata usianya 20-an tahun!