twitter








Lagi kecanduan bikin jepit rambut. Awalnya, bikin satu sebagai gift untuk pelanggan yang sudah dua kali memesan baju. Lha, kok keterusan. Hehe..

Akhirnya bikin beberapa. Untuk dipakai sendiri juga. Lumayan bisa buat jepit kerudung jugak :)



Sudah empat rabu berturut-turut, saya ada di sini: sebuah kedai kopi di Pejaten Village. Resminya, datang ke kantor untuk rapat rutin keredaksian halaman koran yang saya ikut berkontribusi menulis. Tidak resmiya: menghabiskan waktu bersama diri sendiri.

Karenanya....saya selalu memilih datang tiga jam lebih awal. Untuk apa saudara-saudara? Untuk duduk di pojokan sini. Menikmati kopi, sambil merajut atau apa saja yang ingin saya lakukan (kadang juga sekadar duduk sambil koman-komen dan jawabin inbox pelanggan lapak @BatikCROCHE, atau sekadar ngupil saja). 

Hari ini, bawa rajutan. Rencananya, mau bikin vest. Moga2 konsisten hehe. Seringkali rencananya bikin apa, jadinya apa. Rencana baju, jadinya taplak. Rencana tas, jadinya cempal. Haha..

Setengah jam lagi, rapat dimulai. Tak perlu bergegas, karena kantor hanya selempar batu dari sini. Mari meneguk kopi lagi. Lalu merajut satu putaran lagi. Hidup ini indah :)




Sent from Samsung tablet



Itu bukan gentong, pemirsa. Perut yang leban membiru setelah setiap hari disuntik heparin. Sebenernya ndak perlu harus membiru, kalau yang menyuntik jago. 

Sayangnya, saat tiba-tiba ingin tetirah ke Malang sambil menyaksikan adik bontot tersayang diwisuda (doi putra kebanggaan bapak ibu), tak menemukan RS yang suntikannya senyaman di RS langganan. Dilakukan oleh perawat, yang kayaknya grogi betul sehingga perlu memanggil seniornya untuk menggantikan tugasnya. Ini yang nyuntik sang senior lho....bagaimana kalau perawat grogi ituh yang nancepin jarut di perut sekseh ini....

*pukpuk diri sendiri*

Sent from Samsung tablet

INR


INR, apa itu? Ini pertanyaan pertama saya ketika dokter menyuruh saya melakukan tes ini berbarengan dengan tes yang lain. Tambah penasaran ketika blio melingkari tebal hasil tes itu, setelah saya mrmbawanya dari Prodia. "Googling ya, kalau ada yang tak jelas, pas kontrol berikutnya kita diskusikan," ujar blio.

INR kependekan dari International Normalised Ratio. Sederhananya, si INR ini adalah 'meteran' untuk mengukur kekentalan darah. Disebut normal jika INR berada pada kisaran 2 sampai 3. Di bawah 2 tidak bagus, di atas 3 juga demikian. Bagi pasien APS, INR di atas 2 dan di bawah 3 adalah berita menggembirakan, melebihi kegembiraan dapat tiket murah Air Asia Jakarta-Osaka, karena artinya darah jauh dari hal yang menyebabkannya menggumpal.

Saat pertama divonis APS, INR saya 1 dan D Dimmer jauh di atas angka 500, mengindikasikan sudah ada bekuan darah dan saya terancam mengalami emboli paru-paru. Pasien APS biasanya diwajibkan memantau INR-nya, paling tidak seminggu sekali. Biayanya sekitar Rp 135 ribu sampai Rp 200 ribu sekali tes di laboratorium swasta.

Dan, hampir tiga minggu ini, saya menjadi 'hamba' INR yang patuh. Karena tes darah terakhir angkanya di bawah 1 - atau tepatnya 0,8 jauh dari angka normal antara 2 sampai 3 - maka dokter memutuskan menambah kadar Simarc 2 yang saya konsumsi. Malam ini, untuk pertama kali saya harus menelan dua butir obat dari keluarga warfarin itu, di samping aspilet dan juga steroid di pagi hari. Harus dipantau dengan tes darah sepekan sekali karena jika kebablasan, berisiko terjadi  perdarahan di dalam tubuh.

Semoga pusing dan melayang ini segera berlalu.

*postingan galau di sela denging telinga dan kepala serasa goyang*



Menjadi penguntit, itu yang saya lakukan selama bedrest beberapa pekan ini. Terhadap anak dan suami tentu saja. Tepatnya, saya jadi sangat rajin mengintip akun twitter, facebook, dan blog mereka. Mungkin seperti mamanya Julie Child dalam Julie danJulia. Saya selalu menjadi pemberi 'like' pada barisan pertama ;-)

Hari ini, saya mengintip akun Instagram cindil semata wayang saya. Ada perempuan jelita (pakai banget, jangan protes!) dan kekasihnya di sana: ayah dan ibunya, aka saya dan suami saya. 

Tapi caption di bawahnya yang membuat saya berkaca-kaca. I love you Ndul. I feel blessed to have you in my life. 



Sent from Samsung tablet


Dua minggu ini, saya memasuki dunia yang benar-benar baru: berada dalam barisan segelintir kecil perempuan  -- katanya hanya 2 persen yang mengalami -- penderita antiphospholipid syndrome. Para suster di rumah sakit tempat saya dirawat menyebut penyakit ini 'adiknya Lupus'. Mak Aya, wanita Betawi yang kerap memijat saya, dengan melihat biru lebam di kaki saya, menyebut sakit saya karena 'dijilat setan'. "Nanti juga sembuh sendiri," ujarnya. Saya mengangguk saja, menghormati simpatinya.

APS saya bermula akhir bulan lalu, ketika tiba-tiba telinga sebelah kiri tuli mendadak. Ke dokter THT di klinik dekat rumah, dokter bilang telinga saya kotor dan segera dibersihkannya. Besok sembuh, katanya.

Tapi ketika 'besok' itu tiba, tuli tak kunjung hilang. Bojo saya tercinta segera mengajak ke rumah sakit THT Proklamasi di BSD, 20 menit dari rumah. Menjalani audiometri, dokter menyatakan kuping kiri saya fungsinya sudah jauh menurun. Tak bisa mendengar nada-nada bass.

Tuli mendadak, kata dokter THT itu, disebabkan banyak faktor. Bisa virus, tumor di otak atau rahang, udara terjebak, atau darah yang terlalu kental. Saya pulang dengan segepok obat, jumlah enam macam, dan tiap hari harus datang untuk menjalani fisioterapi. Pendengaran berangsur-angsur membaik, walau bunyi denging tak juga hilang. Denging yang saya mencoba membiasakan diri dengannya sampai hari ini.

Dari banyak artikel yang saya baca, jika tuli mendadak tak ditangani dengan baik dalam waktu 14 hari, maka akan menjadi tuli permanen. Pasalnya, sel-sel pendengaran yang tak mendapat suplai oksigen dalam waktu lama akan kehilangan fungsinya.

Insting saya bilang, ada yang salah dengan aliran darah saya. Kalau virus, rasanya tidak karena badan saya tak meriang atau demam. Telinga juga tak sakit. Tumor tampaknya tidak. Yang pasti, saat pusing kepala sebelah mendera, maka denging keras di telinga akan datang disertai jantung berdebar-debat seperti saat menerima pinangan belasan tahun silam (ehm!). Lalu, ya itu, kerap muncul 'pulau' biru di kaki. Atau di saat-saat tertentu, tanpa sebab juga, kaki pegal-pegal kayak habis disuruh kerja rodi.

Saya meminta tolong karib kami -- tepatnya 'emak' asuh, secara blio dulu yang hajatan saat saya dan Jose menikah hehe -- yang bersahabat dengan hematolog senior negeri ini untuk menanyakannya.

Prof Dr Zubeiri Djoerban menyarankan sederet daftar tes laboratorium yang harus saya lakukan, sebelum mendatangi ruang praktiknya. Antara lain darah rutin, INR, D-Dimer, ACA, APTT dan beberapa lainnya. Biaya tes lab nya lumayan....seharga tas batik Gia yang kualitas premium, hehe.

Pendek kata, saya dinyatakan mengidap APS. Di dalam darah saya ada antibodi yang terlalu sigap (atau terlalu idiot?) sehingga menyerang apa saja, bahkan protein baik dalam darah. Diperparah dengan adanya hiperkoagulasi dalam darah saya, yang jika dibiarkan akan membuat saya mati muda karena bekuan darah bisa menyumbat organ utama tubuh. Stroke, serangan jantung, kerusakan hati, atau gagal ginjal adalah risiko terbesar yang akan mengantar saya menjemput maut.

Menyerah? Tidak. Saya menolak untuk karam. Karenanya, saya berobat. Beruntung saya ditangani dokter yang cermat sekaligus jenaka. Saya beroleh banyak hikmah dari sakit ini.

* sambil mengoles thrombophob pada memar yang membiru di beberapa tempat bekas suntikan AriXtra




Foto: www.ipietoon.com

Mau tahu kenapa tampilan blog ini berubah? Kecelakaan, itu yang terjadi. Tepatnya, kebodohan. Siapa? Ya SAYA tentu saja!

Ceritanya, mau mengubah tampilan blog satunya, blog khusus buat jual-jual hasil karya. Maunya sih, biar blog ini murni jadi blog berbagi aneka ketrampilan jahit dan rajut saja.

Namun apa yang terjadi saudara-saudara? Salah setting + Kurang awas matanya + Gaptek + Pikun = Kombinasi yang sempurna untuk menghasilkan ketololan jenis baru..

Sialnya lagi, lupa tidak menyimpan back-up terlebih dulu. Sempurna sudah malam kelam itu. Tambah tersayat-sayat hati ini (emak-emak lebay mulai kambuh) ketika menjumpai semua serba dobel: heading, postingan, about us, semua!

Lalu tiba-tiba mata menjadi kunang-kunang, perut mulas, mual. Pengen ke toilet secara mendadak. Stress, saudara-saudara.

Lalu tiba-tiba ingat ada desainer template blogger yang karyanya keren-keren. Saya tak tahu nama asli blio, tapi ingat selalu situsnya, www.ipietoon.com. Ke sanalah saya memohon pertolongan.

Dini hari, saya menulis email padanya. Ajaib, paginya sudah berbalas, padahal saya sudah siap kalaupun email saya dianggap angin lalu saja. Tahu diri judulnya; siapa saya pagi-pagi buta tereak-tereak minta tolong?

Blio menyarankan untuk melihat HTML-nya. Lalu merujukkan saya pada salah satu posting blog-nya di sini.

Maka dengan meneliti satu-satu baris huruf-huruf aneh bak mencari kode buntut, ketemulah yang disarankan blio. Maka beginilah tampilan blog saya sekarang, dengan menggunakan template blio. Template lama yang keren itu, gak ketemu. Biarlah....barangkali sudah terbawa banjir ke laut lepas lewat pantura

Jadi buat Mbak Ipietoon di www.ipietoon.com di mana pun Anda berada, saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Mbak baikkkkkkk.....Tuhan yang akan membalas kebaikan Mbak!






"Pemanasan" setelah seminggu lebih berteman bakteri dan antibiotik: menyulap pipa paralon bekas jadi gantungan tirai: 

(1) siapkan pipa, lem, perca batik, sisa benang rajut untuk membuat tali pengikat ujung-ujungnya. 
(2) bungkus pipa dengan perca yang dipotong memanjang, dengan lebar kira-kira 2 cm dan panjang sesuai perca.
(3) buat pita dari rajutan buat pemanis, bisa juga digunakan pita instan dari toko. Tujuan selain mempermanis: mengikat ujung-ujung perca biar lebih kuat. 
(4) masukkan gantungan tirai pada pipa. (5) pasang deh di kusen jendela. 

Gak bagus-bagus amat sih, tapi lumayanlah...


Sent from Samsung tablet



Photo taken from: http://plasticscolor.com/blog/wp-content/uploads/2013/01/mom-baby.jpg

Mimpi di siang bolong (kenapa juga harus bolong yak?) : teman zaman masih sama sama memegang rubrik internasional dulu,  datang bersama suami dan tiga anaknya. Yang bontot, bayi usia tiga bulanan. Agak kaget juga karena seingat saya (bahkan dalam mimpipun logika masih bekerja), anaknya cuma dua.

Singkat kata, karena dia mau liputan ke Kementerian Luar Negeri, dia menitipkan bayinya yang ampun-ampun rewelnya pada saya. Girang betul, karena serasa punya anak lagi.

Padahal saat itu, dalam mimpi itu, sayanya juga lagi repot betul. Banyak kerjaan, hingga karena butuh ketenangan, saya memboyong laptop ke bawah pohon di kebun orang (enggak usah protes kenapa ke kebun orang ya, namanya juga mimpi). 

Begitu mereka pergi, saya menimang-nimang bayi yang saya lupa bertanya namanya yang rewelnya minta ampun itu. Sekali dua kali ayun, dia masih saja rewel. tapi begitu digendong dan sayanya bersenandung semerdu Barbra Streisand (jangan protes juga, sstt..), matanya mulai liyer-liyer lima watt gitu, lalu tertidur.

Tapi tiba-tiba ingatlah saya masih  meninggalkan laptop di kebun orang: kalau hilang bagaimana? Mau mengambil, tapi kok sayang betul takut sang bayi terbangun. Lalu alam setengah sadar mulai masup. "Biar sajalah ilang, wong cuma dalam mimpi ini," batin saya. Wak...bangun deh jadinya....semua cuma mimpi... :)

Kenapa harus teman yang sekarang sudah resign dan menikmati kehidupannya sebagai ibu rumah tangga yang datang? Aha, barangkali karena tiap kali membaca berita di situs luar negeri, krisis politik  Thailand tengah jadi topik bahasan. Saya dan dia dulu suka membahas tentang rasa 'kasihan' kami pada perdana menteri Thailand saat itu, Abhisit. "Dia datang di waktu dan tempat yang salah," katanya suatu ketika. Saya menimpali dengan enteng, "Coba kalau dia datang pada saat Andy Tennant hendak membuat film Anna and The King, di Hollywood sana. Pasti dia yang akan mengimbangi Jodie Foster berakting, bukan Chow Yun Fat." Ya, dia terlalu ganteng untuk menjadi perdana menteri hik hik.

Sang teman resign pada saat saya berhasil mengeja namanya dengan benar: Abhisit Vejjajiva
. (selama ini, kalau menulis berita kerap salah, dan dia yang membenarkan ejaan namanya).

Tapi wait...kata orang Jawa, mimpi tentang bayi bukan mimpi biasa. Tapi sarat makna. Mau dapat rezeki salah satunya. Jadi mari berhitung: sehari dua hari, tak ada apa-apa.

Namun di hari ketiga, aka hari ini, "apa-apa" itu terjadi. Tiba-tiba, Anak Lanang pulang sekolah setengah berlari, menyerahkan amplop. Isinya, uang tabungan dia selama kelas lima, dan hadiah dari dua kejuaraan yang dimenanginya saat mewakili sekolahnya. "Buat ibu semua," katanya. Wow...tiba-tiba si 'debt collector' uang saku saya tiap pagi ini murah hati betul....

Dia datang hanya beberapa jenak setelah kedatangan pasutri yang selama ini membantu kami merawat rumah imoet kami di Parung, mengantarkan amplop juga. Rupanya, setelah dua pekan ditinggal pengontrak lama, ada pengontrak baru  yang datang. Tak seperti biasanya membayar untuk setengah tahun, kali ini pengontrak baru membayar penuh untuk masa kontrak setahun.

Ini toh, arti mimpi itu? Mungkin iya, mungkin juga yang satu ini: mereka datang dengan menggendong anak bungsunya yang berumur delapan bulan. Ketika saya menyorongkan tangan, Adelia, nama bayi itu, menyambutnya dan saya menimangnya, persis seperti dalam mimpi. Cuma bedanya, suara merdu Barbra Streisand saya enggak keluar. Takut dianya tertidur pulas (whattttt??????).



Satu cangkir kesayangan berikut tatakannya pecah berkeping-keping. Pemilik, alias saya, sedih betul. Bukan apa-apa. Cangkir itu bagian dari satu set perangkat, lengkap dengan gantungan dan tekonya. 

Tak perlu waktu lama, polisi, aka anak perempuan saya, berhasil menangkap pelakunya. Berikut barang bukti foto beberapa saat setelah kejadian, ketika pelaku pertama berusaha kabur.

Ini hasil jepretan kameranya:




Aku memang bukan darah dagingmu, emak, tapi aku tak pernah menyangsikan sayangmu. Enam belas tahun kau selalu ada untukku, bahkan ketika kesehatanmu berada di titik terendah. Selamat jalan, Ma'e, Allah menjagamu. (Pekalongan, 10 Desember 2013, pukul 02.17)



Materi benang katun
iDR 70.000
Ready Stock



Sent from Samsung tablet




Fit to M/L
Panjang 95 cm
Material: batik tulis Madura kain santyu, benang katun.
Harga: IDR 200 k



Sent from Samsung tablet



Prakarya akhir pekan: menyulap bekas kemasan bumbu spageti jadi gelas "infus" buah. (1) Direndam biar label gampang dilepas (2) disikat dengan parutan keju, jadilah wadah beling tanpa label (3) Masukkan irisan stroberi, apel, belimbing, daun mint, dan perasan jeruk nipis, lalu tambahkan air putih. Tutup, masukkan lemari pendingin. Sueger diminum pas hari terik, sambil merajut temtu sajah.... 



Sent from Samsung tablet



Ini very late posting. Ditulis 8 November lalu, di sudut hotel bergaya oriental di Jalan Besar, Lavender, Singapura, usai menonton anak lanang berlaga:

Indonesia...Bisa, bisa, bisa! Teriak bocah 12 tahun berseragam bola, berangkulan dalam lingkaran. Dua menit ke depan, mereka akan berlaga dengan tim F-17 Singapura, tim sepakbola kelompok usia sama yang dibina veteran pemain bola kebanggaan Singapura, Fandi Ahmad.

Dari segi postur tubuh, jomplang. Tim satunya 'kate' alias badannya kecil-kecil, tim lawan bongsor betul. Teriakan 'tempe' sempat terdengar di antara penonton setempat. Ketika beberapa mempertanyakan, karena mencurigai ada dua pemain yang mulai berkumis -- anak usia 12 tahun tentu belum tumbuh kumis -- mereka dengan enteng menjawab, "Kami makan daging sapi tiap hari."

Untuk datang ke Singapura, jalan berliku dilalui. Mereka, menamakan diri Putra Tangsel Indonesia, bukan berasal dari klub sepakbola mapan. Hanya kumpulan beberapa sekolah sepakbola kampung, yang mengakomodasi semangat main bola anak-anak kampung. Profesi orang tua mereka beragam, mulai dari pilot, wartawan, pedagang di pasar tradisional hingga tukang ojek, tukang cuci yang single parent, dan buruh bangunan.

sedikit catatan: beda dengan sekolah sepakbola mapan yang bayarannya nyaris sama dengan sekolah formal internasional, iuran bulanan mereka sekadarnya. Dulu Rp 25 ribu, belakangan baru naik menjadi Rp 45 ribu. Bayar semua? Tidak. Honor pelatih juga dibayar kadang-kadang.

Namun tekad para pelatihnya satu: memberi pengalaman anak-anak bertanding di tingkat regional Asia. Piala dan medali dari turnamen dalam negeri, beberapa kali mereka kantongi.

Maka diputuskan: menerima undangan dari Panitia Singa Cup 2013 di Singapura. Bukan turnamen bergengsi, namun rutin diadakan tiap tahun, diikuti klub-klub dari lima negara. Indonesia mengirim empat tim, yang saya ingat hanya satu klub dari Bontang dan Javan Hawk yang rutin berlatih di Senayan.

Sedikit kabar menggembirakan: ada bantuan dari pejabat Tangsel yang suaminya kini tersandung kasus di KPK, namun belakangan diketahui tak seberapa nilainya. Tak cukup untuk memberangkatkan 16 pemain dengan empat pelatih. Maka, diputuskan subsidi silang.

Keluarga yang mampu, mengongkosi sendiri anak mereka, Sedang pemain dari keluarga kurang mampu, sebagian di-cover dari sumbangan sang pejabat. Ketika seorang pelatih gagal berangkat karena tak memiliki uang untuk membeli tiket -- pemain dan pelatih sama-sama merogoh kocek sendiri -- mereka kembali saweran. Terharu ketika melepas mereka ke bandara; berdoa bersama, melambaikan tangan pada orang tua mereka yang datang berombongan bak hendak mengantar handai taulan berhaji ke Tanah Suci.

Kabar ke Tanah Air diupdate melalui SMS, yang kemudian disebar antar orang tua. Di babak penyisihan, mereka mengalahkan tim Football West Australia. Namun di semi final, digulung tim Bontang.

Maka di Stadium The Cage Sports Park, Bukit Timah, mereka berhadapan dengan tim F-17 yang 'tiap hari makan daging sapi' itu untuk memperebutkan posisi ketiga. Anak-anak kate ini sempat keder, namun teriakan "Indonesia bisa!" terus bergema. Semangat mereka terbakar. Ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, anak tempe unggul 3-2.

Sekali lagi, mungkin bukan turnamen bergengsi, namun cukup membuat saya dan kami para orang tua bahagia. Melihat semangat mereka, kami bangga: Indonesia masih ada di hati mereka, anak-anak penerus bangsa.

*setelah penerimaan medali, tim Australia yang masih penasaran mengajak tim U-12 uji tanding, dan sekali lagi anak-anak kita menang. Lucu ketika melihat mereka saling bertukar kaus yang saya sendiri mual mencium baunya: seragam mereka hanya satu, dan dipakai sejak hari pertama tanding seminggu lalu!

Sent from Samsung tablet





Rasanya baru kemarin ya Is, aku pinjam pensilmu saat sama-sama berjuang masuk ke universitas para 'jenderal' itu (hal yang membuat kita tertawa bersama, karena ternyata diterima di jurusan yang sama dan nomor absen kita berurutan pula). 


Rasanya baru kemarin kau menamparku karena kuliah sekenanya, sementara teman-teman satu persatu sudah mengajukan judul dan kemudian menyelesaikan skripsinya (Ingat kan Is, lepas senja kita menerobos hujan hanya demi mengejar ACC agar bisa ikut sidang keesokan harinya; menggedor rumah bu Suci, digonggong anjing di rumah bu Tati, mendorong motor CB yang tiba-tiba mesinnya mati). 


Seperti baru kemarin kau memakiku habis-habisan karena salah membaca jadwal pendadaran, yang membuat dekan murka dan aku nyaris tak bisa lulus di tahun yang sama. Kau sibuk melobi pejabat TU agar dijadwal ulang sementara aku mendatangi satu persatu dosen penguji meminta ampunan. Selamat jalan, Is, sahabat yang hebat. Semoga Allah senantiasa menjaga dan mensejahterakanmu di surga-Nya. Aamiin.

Sent from Samsung tablet







Sent from Samsung tablet




huk..huk...itu saya *nyengir keledai*

Apa yang dipamerkan? Hadiah tablet impian dari suami tersayang.

Dia memilihkan yang bisa dicorat-caret biar lebih gampang berdiskusi dengan pelanggan mengenai model baju pesanan. Juga membuat pola, mengingat untuk urusan visual, istri suami saya (alias: saya)  miskin betul.

Gambar di atas, adalah  contoh "kesaktian" tablet baru saya. (Sesuai judul: mau pamer he he).





Kebutuhan:
- Benang rayon alus berat @ 100 gr 2 gulung, atau benang mabel 2,5 gulung
-Haken nomor 2 atau 3

Waktu pengerjaan: 3 hari atau 7 hari jika disela dengan pekerjaan lain.

Pola motif ini   Rp 15.000   Rp 10.000

Catatan:
Anda akan mendapatkan pola crochet dengan simbol gambar (model Jepang) plus bonus pola bros, akan dikirim by email. Keterangan lebih lanjut silakan tinggalkan pesan ke email siwi12510@yahoo.com atau Whatsapp/line 083894533115


Menemukan 'kartu pers' Kakak saat menjadi wartawan di Kidzania beberapa tahun lalu, mengingatkan saya pada obrolan dengan Pak Lurah di desa tempat saya Kuliah Kerja Nyata (KKN) hampir 20 tahun lalu. Zaman saya kuliah, KKN menjadi syarat wajib biar bisa menyandang gelar sarjana.

Empat tahun setelah KKN, kami berlima yang sama-sama sudah lulus dan bekerja di berbagai kota, sepakat untuk bereuni di desa KKN dulu yang letaknya nun jauh dari kota, berbatasan dengan hutan di Kecamatan Karang Anyar, Purbalingga. Haris batal ikut, karena ada meeting dengan klien potensial perusahaannya.

Pak Lurah: kalian sekarang dines dimana?(Dines is from a word: dinas. Kerja dalam bahasa sono).

Lenny: (saat itu menjadi dealer valas termuda di bank swasta ternama di Jakarta) di bank, pak. (Pak Lurah segera acung jempol).

Sigit: (juga bekerja di kantor pusat sebuah bank BUMN) saya juga di bank.

(Pak lurah terlihat mengangguk-angguk dengan wajah sumringah. Tampak betul blio sangat bahagia)

Ketut: (yang memang dari dulu bercita-cita bekerja di kapal pesiar asing, menjawab mantap: ) di kapal pesiar Itali, Pak.

Saya: (ketimbang ribet menjelaskan bahwa saya bekerja sebagai wartawan di sebuah media nasional, yang kerjaannya memburu dan menembus nara sumber seharian hanya untuk membuat tulisan 3.500 karakter,  menyederhanakan kalimat dengan: ) saya bekerja di koran, Pak Lurah.

Pak lurah: dengan tatapan prihatin tajam ke arah mata saya, menjawab tak kalah mantap, "Tak apa-apa Nak Siwi, yang penting halal!"

Kami semua mesem-mesem mendengarnya. Sejak itu, ketiga teman saya ini selalu terbahak bila mengingat percakapan ini. Tentang pak Lurah yang prihatin "anak"-nya jadi penjual koran di lampu merah jakarta.

Namun seperti kata blio, apapun pekerjaan adalah mulia, yang penting halal. Percuma jadi menteri, petinggi partai, atau pengusaha kaya raya, tapi diperoleh dengan cara tak halal, aka K-O-R-U-P-S-I. Betul tidak?

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone