twitter



Ini very late posting. Ditulis 8 November lalu, di sudut hotel bergaya oriental di Jalan Besar, Lavender, Singapura, usai menonton anak lanang berlaga:

Indonesia...Bisa, bisa, bisa! Teriak bocah 12 tahun berseragam bola, berangkulan dalam lingkaran. Dua menit ke depan, mereka akan berlaga dengan tim F-17 Singapura, tim sepakbola kelompok usia sama yang dibina veteran pemain bola kebanggaan Singapura, Fandi Ahmad.

Dari segi postur tubuh, jomplang. Tim satunya 'kate' alias badannya kecil-kecil, tim lawan bongsor betul. Teriakan 'tempe' sempat terdengar di antara penonton setempat. Ketika beberapa mempertanyakan, karena mencurigai ada dua pemain yang mulai berkumis -- anak usia 12 tahun tentu belum tumbuh kumis -- mereka dengan enteng menjawab, "Kami makan daging sapi tiap hari."

Untuk datang ke Singapura, jalan berliku dilalui. Mereka, menamakan diri Putra Tangsel Indonesia, bukan berasal dari klub sepakbola mapan. Hanya kumpulan beberapa sekolah sepakbola kampung, yang mengakomodasi semangat main bola anak-anak kampung. Profesi orang tua mereka beragam, mulai dari pilot, wartawan, pedagang di pasar tradisional hingga tukang ojek, tukang cuci yang single parent, dan buruh bangunan.

sedikit catatan: beda dengan sekolah sepakbola mapan yang bayarannya nyaris sama dengan sekolah formal internasional, iuran bulanan mereka sekadarnya. Dulu Rp 25 ribu, belakangan baru naik menjadi Rp 45 ribu. Bayar semua? Tidak. Honor pelatih juga dibayar kadang-kadang.

Namun tekad para pelatihnya satu: memberi pengalaman anak-anak bertanding di tingkat regional Asia. Piala dan medali dari turnamen dalam negeri, beberapa kali mereka kantongi.

Maka diputuskan: menerima undangan dari Panitia Singa Cup 2013 di Singapura. Bukan turnamen bergengsi, namun rutin diadakan tiap tahun, diikuti klub-klub dari lima negara. Indonesia mengirim empat tim, yang saya ingat hanya satu klub dari Bontang dan Javan Hawk yang rutin berlatih di Senayan.

Sedikit kabar menggembirakan: ada bantuan dari pejabat Tangsel yang suaminya kini tersandung kasus di KPK, namun belakangan diketahui tak seberapa nilainya. Tak cukup untuk memberangkatkan 16 pemain dengan empat pelatih. Maka, diputuskan subsidi silang.

Keluarga yang mampu, mengongkosi sendiri anak mereka, Sedang pemain dari keluarga kurang mampu, sebagian di-cover dari sumbangan sang pejabat. Ketika seorang pelatih gagal berangkat karena tak memiliki uang untuk membeli tiket -- pemain dan pelatih sama-sama merogoh kocek sendiri -- mereka kembali saweran. Terharu ketika melepas mereka ke bandara; berdoa bersama, melambaikan tangan pada orang tua mereka yang datang berombongan bak hendak mengantar handai taulan berhaji ke Tanah Suci.

Kabar ke Tanah Air diupdate melalui SMS, yang kemudian disebar antar orang tua. Di babak penyisihan, mereka mengalahkan tim Football West Australia. Namun di semi final, digulung tim Bontang.

Maka di Stadium The Cage Sports Park, Bukit Timah, mereka berhadapan dengan tim F-17 yang 'tiap hari makan daging sapi' itu untuk memperebutkan posisi ketiga. Anak-anak kate ini sempat keder, namun teriakan "Indonesia bisa!" terus bergema. Semangat mereka terbakar. Ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, anak tempe unggul 3-2.

Sekali lagi, mungkin bukan turnamen bergengsi, namun cukup membuat saya dan kami para orang tua bahagia. Melihat semangat mereka, kami bangga: Indonesia masih ada di hati mereka, anak-anak penerus bangsa.

*setelah penerimaan medali, tim Australia yang masih penasaran mengajak tim U-12 uji tanding, dan sekali lagi anak-anak kita menang. Lucu ketika melihat mereka saling bertukar kaus yang saya sendiri mual mencium baunya: seragam mereka hanya satu, dan dipakai sejak hari pertama tanding seminggu lalu!

Sent from Samsung tablet

0 comments:

Post a Comment

Komentar Teman: