twitter

Showing posts with label jejahit. Show all posts
Showing posts with label jejahit. Show all posts

Jawabannya, belum dulu he..he..

Ini jawaban untuk postingan saya yang ini. Ibu pemesan sudah menerima pesanan yang saya buat dengan pola tanpa teori. Blio bilang sih pas, enak dipakai. Bahkan memesan satu lagi dengan ukuran yang sama untuk model yang berbeda.

Belum dulu kursus, bukan berarti tak ingin kursus, ya. Tetap menyimpan ingin. Tapi mencari waktu yang pas. Mungkin, mengintip isi kantong juga, belum tahun ini. Decak-decak aja telepon beberapa tempat kursus, biayanya di atas Rp 6 juta.

Ini sih, sedikit catatan sebagai seorang otodidaker:

* Eksplor aneka sumber, teori dan taktik menjahit. Di era dot.com saat ini, kursus jahit gratis bertebaran di jagat maya.  Tentu saja, asal rajin browing dan mempraktikkannya. Percuma mengumpulkan banyak bahan ajar, tapi tak jua mempraktikkan.

* Jangan sungkan untuk bertanya pada senior. Saya kerap menimba ilmu secara tak langsung pada penjahit-penjahit di beberapa pasar di Jakarta dan penjahit langganan suami. Salah satunya: jangan pelit menggunakan setrika kalau ingin jahitan rapi. Jadi untuk sambungan belakang, misalnya, segera disetrika begitu disatukan. Lebih kelihatan rapi dan manis. juga pas kalau disambungkan dengan bagian depannya.

* Jangan segera buang baju yang aus tapi enak dipakai. Buka jahitannya, setrika, lalu jiplak di atas koran. Jadi deh, pola baju nyaman.

Foto diambil dari: FashionEra.com






All size (ukuran bisa disesuaikan) panjang 60 cm
IDR 180.000 -----> IDR 150.000
Berminat? SMS sja ke 083894533115

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


Simsalabim! Cinderella membuat pesanan rok maxi dari kain motif batik hokokai dalam semalam...*hoam..tinggal ngantuknya!*


Tampak "memprihatinkan" ya? Biarin aja hehehehe.....Dia mesin jahit terkeran di mata saya. Kami sudah saling setia sejak 31 tahun lalu. Saya memberinya nama: Siti Nurbaya.




Kotak pandora, eh bukan....kotak wasiat. Semua alat jadi satu di dalamnya. Sekalinya keselip, uring-uringannya tujuh hari tujuh malam. Coba kalau ada fasilitas "misscall" untuk barang selain ponsel ya? Kalau keselip, kan tinggal di telepon saja.



 Yang atas, gunting kain. Yang tengah, gunting untuk kertas, pola, dan apa saja yang non kain. Yang bawah, gunting benang. Kenapa si besar dikasih tali rafia? Biar para cindil saya tahu itu gunting kain emaknya, jadi tak digunakan untuk menggunting yang lain. Bisa kethul ntar...



 Haken untuk merenda. Yang paling atas mereknya c*o**r, konon yang paling mahal. Orang di kampung saya bilang, "Rega mawa rupa", alias harga tak pernah bo'ong: mang enak sih dipakainya. Dibeli waktu habis dapat THR (ih, kok curcol sih? xixixi). Ketika pengen beli yang ukurannya lebih kecil -- karena THR tak datang setiap bulan -- jadi beli yang grade di bawahnya, merek t*l*p. Terus,ternyata perlu yang lebih kecil lagi. Beli yang murmer saja, Rp 10 ribu perbiji. Jadi kesimpulannya: asal hati sedang riang, pakai alat apa saja sama-sama menariknya (catatan: kebalikannya kalau hati sedang gulana). Halah...



Ini - nama pastinya saya tidak tahu - saya sebut pembolong kain. Kalau yang suka baca cerita detektif atau nonton Basic Instinct-nya Sharon Stone zaman purba, pasti bakal macem-macem konotasinya, he he. Gunanya untuk melubangi kain biar haken bisa lebih gampang menarik benang.



Yang ini pasti tahu kan? Betul, penonton...senter. Senter buat menjahit?




Ini gunanya senter. Buat yang matanya sudah mulai uzur seperti saya, tak ada yang lebih seksi ketimbang cahaya senter menyinari lubang jarum. ck ck ck...


 Ini tangan saya, sedang memainkan Siti Nurbaya. Jarik yang saya jahit punya pelanggan, batik Cirebonan. Pasmina yang saya pakai, selendang batik cap dapat "nemu" di pasar tradisional di Bobotsari, Purbalingga.



Seorang teman bertanya, jarum pentul wajib ada ya, dalam kotak jahit kita? Tergantung. Bagi saya, jarum pentul sangat membantu memudahkan kegiatan menjahit. Jarum pentung membantu tangan agar tak 'kerepotan' saat menjahit, terutama terkait dengan kelim mengelim atau menjadit kain yang jenisnya licin.

Jarum pentul berguna untuk:

* menyatukan dua bagian pola sebelum dijahut agar rapi.

* mengelim bagian yang akan dijahit tindas agar lebih rapi hasilnya.

* mematut aksesori sebelum dijahitkan pada pakaian.



Sebetulnya, dalam lahit-menjahit, banyak alat yang bisa dikompromikan, selain benang dan jarumnya tentu saja. Seam ripper  yang pernah saya sebutkan dalam postingan sebelumnya misalnya, misa digantikan dengan silet, cutter, atau bahkan pisau dapur (*serieus*). Jarum pentul bisa digantikan perannya oleh jarum jahit tangan, dengan cara menjelujurnya. Jadi don't worry gak ada jarum pentul, kegiatan menjahit tetap jalan. Kalau alat yang ini sih, emang tak tergantikan!


Catatan:

Siapkan wadah khusus agar tidak tercecer, terutama jika di rumah ada balita. Bisa ditancapkan di bantalan jarum yang dibuat sendiri seperti punya saya di atas itu (*pamer*) atau bisa juga ditempelkan begitu saja di magnet. Ngomong-ngomong soal magnet, ini penting juga lho. Kalau jarum kita jatuh, akan mudah ditemukan dengan 'mengoperasikan' alat bantu ini   ;-))



Tepatnya, bukan menjahit kemeja, tapi menyulap kemeja ayah jadi baju ibu.
Asalnya, kemeja ini adalah lengan pendek. Motifnya batik Banjarmasin, lebih populer disebut sesirangan. Dibeli sepulang liputan dari pedalaman Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Tentu saja, buat suami tersayang :)

Delapan tahun kemudian, kemeja ayah menyerah dimakan usia. Tepatnya, bagian kerah ancur duluan. Dipensiunkan? Sayang. Berdasar pengalaman me-recycle dress untuk daster kakak, dan menyulap pasmina jadi baju, kenapa tidak ilmu yang sama diterapkan dalam baju ini?
Jadi, mari kita sulap saja jadi baju ibu. Simsalabim! Adakadabra!

1. Pertama, mari kita merancang cara. Skenario saya, bahu hingga sebatas lengan kita pangkas habis. Digunting miring, membentuk sudut 45 derajat. Gambar di bawah, garis putus-putus adalah jalur guntingnya. Kira-kira begini gambarannya:



2. Langsung eksekusi saja deh. bagian bawah kerah belakang juga digunting, segaris dengan jahitan kerah terbawah saja.


3. Cari bahan lain yang senada, lipat jadi dua, dan gunting miring. Jadikan potongan baju hingga bawah ketiak (poin nomor 1) sebagai pattern. Karena saya menyulapnya menjadi lengan panjang, maka panjangkan seukuran panjang tangan. Jahit kedua sisinya, rapikan jahitannya.



Untuk merapikan bagian leher, kita bisa memasang kerah tegak, atau dirapikan dengan menutupnya dengan 'list' di atasnya. Karena saya sedang malas, maka cara kedua yang saya pilih, dengan pertimbangan lebih cepat rampung :)


Jadi, beginilah tampang baju ayah sekarang, yang sudah ganti kelamin jadi baju ibu:




Ketika kecil dulu, saya kerap rancu membedakan jarum jahit mesin dan jarum jahit tangan. Hingga kemudian menemukan formula pembeda dengan kalimat sederhana: jarum tangan "mata" jarumnya di atas, dan jarum mesin di bawah. Melalui "mata inilah, benang disematkan, kemudian ditarik dan aktivitas menjahitpun siap.

Besar sedikit, saya berkenalan dengan mesin jahit. Tepatnya, ketika menginjak kelas 5 SD, ibu menghadiahi saya mesin jahit tangan. Girang. Serasa menjadi Lik Supri, guru mengaji idola yang mempunyai pekerjaan lain sebagai penjahit.

Semula saya mengira semua mesin jahit menggunakan jarum ukuran seragam. Ternyata salah. Jarum, seperti urutan anak-anak ibu saya yang susul-menyusul serupa anak kelinci, semua bernomor.

Kenapa bernomor? Mudah jawabannya. Menyesuaikan dengan ketebalan kain. Makin tebal kain, makin kuat dan besar jarum.

Lalu bagaimana menentukan jarum yang tepat? Ini ilmu warisan ibu saya, yang ketika dicocockkan dengan ilmu menjahit ketika era internet menyeruak, ternyata betul (Horee...meski ibu tak secanggih Sarah J Doyle yang sudah menghasilkan 25 buku jahit-menjahit, tapi ilmunya tak kalah....)

Begini kiatnya:

# Kain halus seperti sutra, sifon, renda, voile, atau organdi akan lebih pas jika menggunakan jarum nomor 9, alias jarum halus.


# Kain taffeta, beludru, kain stretch, triko, dan  plastik cocok dengan jarum ukuran 11.

# Kain dengan ketebalan sedang seperti katun jepang, popelin, linen, muslin, chambray, krep wol, flanel, rajutan, jersey, satin, dan sutra mentah, bisa menggunakan jarum nomor 14.

# Kain agak tebal seperti kain gorden atau kain untuk sprey jenis tertentu pas dengan jarum nomor 16

#Kain kelas berat nan tebal seperti jeans alias denim, cocok dengan jarum nomor 18.


Sebetulnya, tak mengikuti pakem itu juga tak apa-apa. Namun, kita harus siap dengan risiko jarum bengkok atau bahkan patah.

Sebaliknya, untuk kain yang halus, jika "dihajar" dengan jarum beberapa nomor di atasnya akan meninggalkan lubang di bekas tindasan jarum, yang ketika baju siap, tak manis dibuatnya.




foto saya ambil dari: thisnext.com

Orang menjahit karena berbagai alasan. Sebagian untuk hobi, sebagian untuk kebutuhan. Sebagian lagi untuk mencari nafkah (seperti saya zaman kuliah dulu, *kenalkan*).

Menjahit juga bisa menjadi pembuktian (lho?!). Maksudnya begini: kalau kita dendam lihat baju di Butik X yang modelnya "cuma kayak gitu" tapi harganya selangit, setidaknya kita bisa membuat kembarannya dengan kain yang sama yang banyak kita jumpai di Mayestik ;)

Menjahit bisa menjadi salah satu cara relaksasi dan dapat menjadi solusi santai untuk menghabiskan sedikit waktu luang.

Hanya saja, kerap kita patah arang dan menyerah hanya karena proyek pertama gagal, atau bikin satu baju sampai satu setengah tahun baru kelar, saat ukuran tubuh sudah melar *asli pengalaman pribadi*

Apalagi, baju instan asal Cina di pasaran jumlahnya bejibun, dengan harga yang "amat sangat terjangkau sekali" pula. Bahkan, ongkos taksi dari rumah ke kantor saya, bisa untuk beli dua baju seperti ini.

Tapi percayalah pada saya - kebangetan kalau tidak - bahwa memakai baju hasil jahitan sendiri, akan lebih .... puwwaaasss *dengan intonasi mirip teman saya yang orang Malang*.

Setelah saya pikirkan dan renungkan (lebay mode on), ada sejumlah aturan main yang harus kita ikuti untuk sukses menjahit. Trik ini kayaknya agak sahih deh, terutama buat penjahit pemula. Gak percaya? Cobain saja:


Tips # 1: Ikuti arah. Kalau sudah menemukan model dan pola yang pas, terus di-break down, maka hal yang sangat penting adalah  mengikuti petunjuk pada pola. Penting untuk memeriksa seluruh pola sudah lengkap. Kemudian, lihat apa langkah-langkah yang harus dilakukan, sesuai urutan. Kalau membuat baju, saya akan mulai dari bahu, kemudian sisi badan, baru pasang lengan.

Tips # 2: Jangan lupa sisakan tepian kain untuk jahitan. Usahakan, panjang tepinya sama. Bila perlu, dibuat garis jahitan dari kapur jahit pada masing-masing sisi.

Tip # 3: Ukur, ukur, ukur. Yakinlah ukuran sudah benar sebelum mulai memotong kain. Pikirkan dua tiga kali dari berbagai sisi sebelum akhirnya mata gunting berbicara. Sayang kan, kalau kain yang sudah dibeli mahal-mahal akhirnya menjadi baju gagal atau kekecilan.

Tip # 4: Jangan ragu minta bantuan jarum pentul atau peniti. Ini untuk memastikan jahitan lurus dan tak repot menyatukan kain ketika siap dieksekusi di bawah jarum mesin jahit. Kalau saya, karena kerap tertusuk-tusuk jarum pentul, lebih enak dijelujur dulu. Jelujur? Itu lho, jahit tangan asal. Pakainya benang yang mencolok, kontras dengan kain biar setelah jahit mesin beres, tinggal ditarik benangnya. Teknik jelujur ini akan sangat bermanfaat sekali jika kita menggarap bagian-bagian yang lebih rumit: manset, kerah, atau keliman.

Tips # 5 Ini contekan dari tailor tempat suami saya langganan jahit celana. Rupanya, si bapak menyetrika celana tiap kali selesai menjahit dua potongan kain jadi satu. Hasil jahitan akan lebih rapi jatuhnya. Saya mempraktikkannya, dan sejauh ini berhasil. Coba deh.

Tip # 6 Tekun, sabar, teliti. Kalau memulai satu proyek, niatkan untuk menggarapnya sampai selesai. Nasihat ini buat diri saya sendiri juga :)

Selamat mempraktikkan.


Sebetulnya, ini proyek yang sudah direncanakan sejak lama: menjodohkan kaus yang sudah aus dengan rok yang sudah out of date (tapi mau dipindahtangankan sayang, karena agak "bersejarah"). Tujuan proyek ini satu: baju rumah yang nyaman buat Kakak.

Ya, bidadari kecil yang kini mulai bertumbuh ini sering membuat saya terkaget-kaget ketika pulang kerja: memakai daster bolong emaknya. Alasannya, "Daster ibu adem dipakainya." Ah, tahu saja dia, bahwa semakin aus daster, semakin enak dipakai. Kekekekek....(bakat "slodeg" menurun...xixixixixixi...).

Jadilah daster itu begini bentuknya:



Tadinya asalnya dari begini:


Kemudian dipotong kira-kira sepanjang 30 cm dari bahu:


Dan ini juga diperlakukan sama:


 Kemudian disatukan. Biar gampang (karena kaus jadi melar kalau dijahit, sebaiknya dijelujur dulu:


Saya menjahitnya dengan tangan, bukan mesin. Jadi saya stik balik dengan tusuk tikam jejak:


Jadilah baju rumah daur ulang itu dalam setengah jam.......


Karena kaus asal punya emaknya, maka pasti kegedean buat Kakak. Jadi diserut aja pakai benang wol yang ujungnya dihias dengan wol gulung yang diikat di tengah kemudian digunting ujung-ujungnya. Tapi Kakak malah keheranan: apaan sih ini bu? Wakakakakak!









Namanya saja darurat. Ada daster ibu yang disulap menjadi daster kakak, ada pasmina yang disulap menjadi daster juga. Hidup daster! he..he.. Sang mudel sedang begaya..... Nyengir jaya..... Padahal, beginilah belakangnya: Satu lagi: Asalnya begini.... Lalu dilubangi tengahnya, dijahit pinggirnya (sisakan 10 cm di bagian atasnya untuk lengan)..... Dan, taradalalalalaaaa..........


Pembuka Benang (Seam Ripper) Dulu, ketika masih belajar menjahit dengan guru ibu saya, membuka jahitan -- bila ada kasus salah jahit, kebablasan jahit, atau inseiden "terjahit" -- dilakukan dengan silet merek Goal sisa bercukur bapak. Dampaknya, tak hanya jahitan yang kebuka, tapi juga kainnya turut tersobek, apalagi bila dilakukan terburu-buru (karena terlalu bernafsu ingin segera melihat hasil akhirnya). Maka ketika suatu hari menemukan alat untuk membuka benang, girangnya bukan main. Alat pembuka benang ini mempunyai dua poin, satu bagian tajam dan satunya lagi melindungi kain agar tidak turut tersobek. Pengoperasiannya sangat mudah dan tak perlu buka mata lebar-lebar seperti halnya menggunakan silet Goal bekas bapak bercukur tadi. Jenisnya pun beragam, dari yang kecil, sedang, hingga besar, tergantung kebutuhannya. Kalau untuk menjahit sederhana di rumah, yang ukuran kecil saja sudah cukup. Kegunaan: Membuka jahitan yang tak dikehendaki. Cara penggunaannya bisa dilakukan dari tengah-tengah jahitan atau dari salah satu sisi benang, yaitu dengan "mencincang" benang dengan jarak 1-2 cm sampai selesai, kemudian tarik sisi benang lainnya. maka jahitanpun terbuka. Perawatan: * karena ujungnya lumayan lancip, apalagi bila pelindung lancipnya (duh...gimana ini ngomongnya?) hilang, maka usahakan agar "topi"-nya senantiasa terpasang bila tidak digunakan. Bila tidak, cedera tertusuk sangat mungkin terjadi. * Bila mulai tumpul, asahlah dengan cara menggesekkan bagian tajamnya dengan pisau baja. Lakukan pelan-pelan saja.


Sepuluh menit saja menyulap baju kakak menjadi baju adik yang berkunjung dan kehabisan baju......

Awalnya begini:










Terlalu kegedean untuk anak umur 2 tahun kan?
















Dijahit di area sekitar leher saja. Saya menggunakan pita kecil sebagai benang. Kemudian dikerut begitu saja...



Begini jadinya...















Yang ini juga dibuat dengan cara yang sama:








Ini jadwal akhir pekan kami: membuka internet bersamaan, kakak di PC ayah di laptop. Aku? Nyengir jaya tak kebagian! Jadi, mengaduk kamar setrika mencari-cari apa yang bisa dimainkan. Trada.....ketemu kain batik sisa membuat baju kakak. Lebarnya lumayan, sekitar 1,25 meter.
Sedianya, mau dipasang di kamar yang baru rampung digasar-geser Jumat lalu. Tapi korang cocok temanya. Jadi dipasang di jendela depan.
Simsalabim, dengan modal Rp 7.500 saja (buat beli pita), jadilah tirai baru....





Perkenalanku dengan dunia jahit-menjahit pertama kali terjadi di umurku yang ke-10. Awalnya, karena gemas melihat ibu yang selalu "sukses" membuat baju-baju kami -- lima anak, satu corak kain, jadilah kami kembar lima tidak beraturan (paling sebel kalau ada yang meledek: tambah satu dapat gelas!)

"Korban" pertamaku adalah sprei yang bolong karena kelamaan terpapar setrika (secara tahun 1980-an, setrika listrik tak ada tombol otomatis pengatur suhu). Dengan sedikit arahan sang suhu -- yang adalah ibuku, ahli pembuat baju kembar lima itu -- jadilah daster pertama buatan tanganku. Bangga rasanya mengenakan sesuatu hasil keringat sendiri (dramatisasi mode on! ).

Tadi pagi, sambil menemani bojo surojo tercintah yang tengah sibuk mengumpulkan bahan untuk menulis kolom di sebuah surat kabar tentang bola, aku keingetan pashmina ungu oleh-oleh teman dari Yogya. Bagus sih, tapi insiden kelunturan mengubah segala keindahannya.

Maka, aku mengulang kejadian berpuluh tahu lalu. Membuat daster dengan cara yang sama. Lumayan. Paling tidak, si kakak, sulungku yang beranjak remaja,  sangat bangga mengenakannya!

Ini cara paling sederhana untuk membuat baju, dijamin 30 menit siap.


Pertama-tama:

1. Lipat pasmina jadi dua, lubangi bagian tengahnya. Lebarnya dikira-kira sendiri saja, asal pas buat kepala. Kalau besar kepala, maka besar pula lubangnya :)




Rapikan bagian lehernya, dengan dikelim kemudian dijahit atau di-soom tangan.





















2. Jahit kedua sisinya. Sisakan bagian atas untuk tangan, kira-kira 30 cm (15 cm depan 15 cm belakang).

















 3. Siap grakkkk! Kalau kepanjangan tinggal dipotong bawahnya. Atau biarkan saja, jadi aksen. Gak perlu jahit bawah pula.